Zen Diary

Seputar Obrolan Ringan, Pengalaman Hidup dan Mutiara Ilmu

Kisah Mendidik : “Jilbab Putri Kecilku vs Ayahnya”

Posted by zensudarno pada Juni 17, 2009

puteri kecil
Mendidik anak secara Islami dan istiqomah dimana saja bukanlah hal yang mudah. Setidaknya begitulah bagiku yang awam ini. Contohnya seperti aku berniat membiasakan putriku yang berumur 5 tahun memakai jilbab saat keluar rumah. Godaannya banyak sekali. melihat rambutnya yang lucu, ingin rasanya aku mengkepang-kepangnya dan memamerkannya pada semua orang di luar. Ingin aku memakaikannya baju tanpa lengan, karena bahu dan lengannya lucu dan montok. Apalagi mengingat ia belum wajib pakai jilbab.

Tapi kalau aku mengingat apa yang akan terjadi di masa depan, ngeri aku membayangkan ia akan meolak memakai jilbab saat umurnya telah mencapai baligh. Apalagi dengan lingkungan sekolah di Jepang seperti ini. Ia akan malu dengan perbedaan yang mencolok dan mendadak jika ia mulai memakai jilbab di umur baligh.

Menurut pengalaman sahabat-sahabat ku di Jepang, kalau dilatih dari sekarang, insya Allah ia akan terbiasa dengan jilbabnya dan perasaan berbeda itu. Dan juga, mudah mudahan ia jadi tau cara mengatasinya. Dan bagiku ada yang lebih penting dari jilbabnya, yaitu rasa identitas dan keteguhan diri sebagai muslim untuk memegang prinsip-prinsip keislamannya di manapun ia berada.

Semenjak masuk TK islam Otsuka di Jepang akhir tahun lalu, putri kecilku tidak mau lepas dari jilbab mungilnya. Alhamdulillah, padahal sebelumnya ia pakai jilbab hanya kalau akan keluar denganku berdua saja. Kalau pergi dengan teman Jepang yang belum akrab, dia masih malu memakai jilbab. Dan kalau keluar dengan papanya, Sengaja tidak kupakaikan jilbab. Aku hanya tidak ingin ini menjadi suatu konflik. Lagi pula ia belum wajib memakainya.

Tapi kini ia makin setia dengan jilbabnya. Dengan teman-teman sesama muslim yang juga berjilbab, guru guru yang berjilbab di tambah buku cerita muslimah tentang anak yang persis seperti dia. Tidak mau pakai jilbab dengan alasan mau pakai topi aja. “Kalau pakai jilbab, nanti berkeringat…, panas lagi,” kata anak perempuan di buku itu. Putriku senyum senyum mendengarnya. Seakan buku itu menyindir dia. Buku itu menarik sekali. Saat anak perempuan di buku itu memutuskan untuk memakai jilbab, wajahnya di buat lebih cantik dari sebelumnya. Sehingga anakku berfikir, dengan pakai jilbab, ia akan lebih cantik dari pada tidak pakai jilbab. Ia pun makin setia dengan jilbabnya.

Walaupun begitu, ada satu hal yang mengganjal. Bagaimana yah dengan suamiku ? Apa reaksinya mendapati putri kecil nya yang masih berumur 5 tahun berpenampilan dengan rambut tertutup keluar rumah.

Benar saja, saat suamiku melihat Azusa kecil dengan jilbabnya saat akan jalan-jalan berdua saja dengannya, wajah yang tadinya berseri berubah jadi cemberut. Tapi aku pura-pura tak menyadarinya. Merekapun berdua pergi dangan wajah cemberut papanya.

Hari yang lainpun begitu, saat Azusa berlari kecil ke pintu untuk ikut pergi dengan papanya, dan tentu saja dengan jilbabnya, aku dengar papanya berbisik,” mana topi nya ? Pakai topi aja .”
“ Jilbab ga ii ( aku mau pakai jilbab aja ),” jawab putri kecilku.
Suamiku cemberut lagi. Tapi tentu saja ia tidak berani memarahi putrinya yang selalu ia manja dan sangat mengidolakan papanya itu. Dan ia juga tidak berani menegur istrinya yang sering memberi hadiah ini. Dan akupun pura-pura tidak menyadarinya lagi.

Hingga pada suatu hari, aku tak menyangka suamiku pada akhirnya akan berani melarang Azusa memakai jilbabnya.

Saat itu kami bertiga akan pergi ke pusat perbelanjaan. Bukan untuk belanja, hanya untuk lihat-lihat saja sambil menunggu suamiku yang ketempat cukur rambut.
Saat bersiap siap Azusa tak lupa mengambil jilbab mungilnya. Aku yang berada di kamar Azusa mendengar papanya berbisik di pintu masuk, “ mana topinya ? pakai topi saja .”
“ Jilbab ga ii ( aku mau pakai jilbab aja ),” kata Azusa. Agaknya suamiku jadi agak kesal terlihat dari wajah cemberutnya. Iapun berjalan kekamar kerjanya. Aku pura pura tak tahu bersenandung riang agar suamiku tak tega menganggu kegembiraanku hari ini.

Azusa kecil lari kekamar kerja papanya. Aku masih bersiap siap dikamar Azusa. Entah apa yang suamiku bisikan ke putriku, yang jelas Azusa menjawab sembari berteriak ke papanya pakai bahasa Indonesia. Padahal papanya yang tidak bisa bahasa Indonesia itu bicara memakai bahasa Jepang.

“ …AKU MAU PAKAI JILBAB…!” teriak Azusa dengan bahasa Indonesia tanpa nada marah. Lalu senyap lagi. Sepertinya suamiku berbisik sesuatu lagi karena Azusa menjawab lagi dengan bahasa Indonesia.
“…KENAPA NGGAK BOLEH PAKAI JILBAB ? AKU KHAN ORANG ISLAM ?!” teriak bidadari kecilku. Tak lama kemudian terdengar lari kecilnya menuju aku sambil mengadu dengan bahasa Indonesia.
“ Mama …kata papa aku nggak boleh pakai jilbab !”
Aku meletakkan jari telunjukku dibibirku. Dalam detik yang singkat itu semua perasaan berkecamuk dalam hatiku. Pikiranku mencari kata kata yang tepat untuk di ucapkan, agar tak lebih dalam tergores hati putri kecilku.

Alhamdulillah Allah membimbingku.
“ Azusa mau pilih siapa, Allah atau papa ?” tanyaku lembut memegang bahunya.
“ Allah,” jawabnya dalam bahasa Indonesia dangan mantap.” Aku cinta Allah. Kedua aku cinta nabi Muhammad sallallahu alaihi wasalam, ketiga aku sayang mama, terus yonbanme wa ( keempat ) papa. Papa jilbab dame dame datara, mama ga hoo ga suki ( kalau papa bilang nggak boleh pakai jilbab, nggak boleh jilbab, aku jadi lebih sayang mama ).”
“Subhanallah….” kataku sambil merangkulnya.
Tak ada kata kata yang keluar dari suamiku pada hari itu. Agaknya ia juga berusaha menghindari konflik.denganku dan tak mau kehilangan popularitas di mata Azusa.

Di mall aku tanya Azusa, “ tadi di kamar, papa bilang apa ? “
“ Papanya bisikin aku kayak gini,” kata Azusa sambil membungkukan badannya. “ Jangan pakai jilbab.”
“Trus papa bilang apa lagi ?”
“ Lepas jilbabnya, nggak boleh pake jilbab, “ kata Azusa lagi.

Duh, sayang, anakku. Selama ini aku berusaha menghindari agar hal ini tak terjadi. Jangan sampai ia menemukan ayah yang ia cintai, yang ia puja dan banggakan, berseberangan dengannya dalam soal prinsip yang tak ia biarkan seorangpun mengganggu gugat. Aku tak ingin ia kecewa dengan ayahnya.
Ia masih 5 tahun. Seharusnya ia tak perlu tau semua ini. Sekarang ia tau bahwa aku dan dia berjuang bersama dalam langkah kaki yang sama Hanya berdua, aku dan putriku. Dan percaya bahwa suatu saat ayahnya akan ikut dalam barisan kita.

Tak lama setelah kejadian itu, berkat pertolongan Allah, Alhamdulillah semuanya berakhir tanpa konflik. Tanpa suatu perdebatan, tanpa suatu pertengkaran. Seperti biasa Allah bisa melakukan apa saja.
Entah mengapa , mungkin karena melihat ketegasan Azusa dan aku, dan tentu dengan pertolongan doa dari orang –orang disekitarku terutama ibu tercinta, tanpa satu patah katapun, suamiku menyerah.

Suatu hari cerah saat kami bersiap-siap untuk pergi, diluar Azusa kecil dengan jilbabnya bergandengan dengan papanya. Wajah riang mereka yang tak berubah sama sekali. Sesekali suamiku membetulkan jilbab putri kecilnya yang miring dan memujinya.

Alhamdulillah…., mungkin ini bukan akhir dari cerita. Masih banyak tantangan yang akan kami lalui. Tapi ya Allah, sampai saat ini, terimakasih Kau beri ruang di hati suamiku, untuk jilbab putri kecilnya. Alhamdulillah.

sumber : oleh Nuniek Miyasaka Minggu, 15/03/2009 http://www.zusa14.multiply.com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: