Zen Diary

Seputar Obrolan Ringan, Pengalaman Hidup dan Mutiara Ilmu

Menjelaskan Poligami yang Benar

Posted by zensudarno pada Juni 11, 2009

Ribuan tahun sebelum Islam datang, poligami sudah dipraktikkan meluas oleh masyarakat di berbagai belahan bumi. Nabi Muhammad SAW lahir dan tumbuh di tengah masyarakat seperti itu, jadi tidak benar kalau Islam yang dianggap sebagai pemula poligami.

Ketika Muhammad berdagang ke Syria bersama pamannya, seorang staf Khadijah memperhatikan kejujurannya. Muhammad bahkan jujur pada pembeli jika barang yang dijualnya cacat.

Di masa itu Siti Khadijah adalah wanita yang beruntung. Ia satu di antara sedikit wanita yang mandiri dan punya akses ke kalangan saudagar kaya dan bangsawan, sementara banyak wanita jadi budak, atau di bawah kendali lelaki.

Khadijah adalah janda terhormat, sudah banyak dilamar lelaki tapi bukan wanita murahan. Hingga akhirnya ketika usia 40 ia meminta Muhammad menjadi suaminya.

Untuk memahami poligami Nabi, selayaknya kita menghayati perjalanan hidup beliau. Data sejarah mencatat betapa bahagianya perkawinan Nabi itu. Sampai Khadijah wafat, Nabi tidak menikah dengan perempuan lain.

Nabi menempatkan Khadijah sebagai istri, mitra dialog, sahabat terkasih tempat mencurahkan segala problema, terutama di saat beliau memulai tugas risalahnya sebagai Nabi dan Rasul Allah.

Perkawinan Nabi yang monogami dan penuh kebahagiaan dengan Khadijah berlangsung 28 tahun. Beliau baru menikah lagi 2 tahun setelah Khadijah wafat. Rasul Saw kala itu berumur 54 tahun, menikahi Saudah bint Zam’ah yang berumur 65 tahun (ada riwayat yang menyebut 72 tahun). Beliau menikahi Saudah untuk melindungi perempuan tua yang sudah menopouse dari keterlantaran dan tekanan keluarga yang masih musryik.

Ketika dilamar, Saudah bilang,”Ya Rasul, saya sudah tak punya hasrat seksual…”

Rasul Saw menjawab,”Bukan itu yang aku ingin, melainkan agar kau menemani anakku,” waktu itu tinggal Fatimah yang belum kawin.

Dua bulan kemudian Rasul menikahi Aisyah bint Abu Bakar, satu-satunya istri yang masih perawan dan paling muda***  (silahkan baca artikel sebelumnya di blog ini https://zensudarno.wordpress.com kategori Fiqh Nikah, bertajuk : “Meluruskan Fakta Aisyah RA Menikah Tidak Di Usia 7 atau 9 Tahun”).

Kemudian Rasul berturut-turut menikahi Hafsah bint Umar ibn al-Khattab, Ummu Salamah, Ummu Habibah, Zainab bint Jahsy, Zainab bint Khuzaimah, Juwayriyah bint Haris, Safiyyah bint Huyay, Rayhanah bint Zaid, Maimunah bint Harits.

Semua perkawinan itu terjadi di Madinah dan dalam rentang waktu relatif pendek, 5 tahun. Sebagian istri Rasul Saw telah berumur, punya banyak anak dan janda para sahabat yang gugur dalam perang. Dari 11 istrinya Rasul tidak dikaruniai anak (hanya dengan Khadijah punya 6 anak).

Kesalehan dan kemuliaan akhlak Rasul Saw dalam memilih istri digambarkan dalam banyak hadits, di antaranya hadits Amrah bint Abdurrahman, Rasulullah Saw ditanyai: Ya Rasul mengapa engkau tidak menikahi perempuan dari kalangan Anshar yang sangat terkenal kecantikannya?”

“Mereka adalah perempuan yang sangat pecemburu dan tidak akan bersabar dimadu. Sementara aku punya beberapa istri dan aku tidak suka menyakiti kaum perempuan berkenaan dengan hal itu.” Jawab Rasulullah Saw.

 Dalam Al Qur’an disebutkan..

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap  perempuan yang yatim, maka kawinilah wanita-wanita  yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka  seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.(Annisaa’:3)

Selanjutnya..

Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Annisaa’:129)

Sebagian pendapat menyebutkan bahwa Surat Annisaa’ ayat 3 tersebut di atas sebenarnya turun untuk membatasi jumlah istri, karena pada zaman Rasulullah kecil, sudah biasa seorang suami bisa punya hingga 200 istri. Benarkah demikian? Wallahu a’lam..

Sekarang jika umat Islam ingin mengikuti sunnah Rasul dalam perkawinan, pilihan bijak tentulah mengikuti perkawinan monogami Rasul yang penuh kebahagiaan selama 28 tahun, bukannya perkawinan dengan banyak istri yang hanya berlangsung 6 tahun…”

Dan salah satu tanda akhir zaman disebutkan bahwa  suatu saat nanti jumlah perempuan lebih banyak dibanding laki-laki, dan kalau masa itu sudah tiba maka nggak mustahil kondisi poligami sudah biasa, mungkin banyak istri yang malah merelakan suaminya menikah lagi, demi solusi sosial.

Jadi untuk masalah poligami, sebenarnya memang hak setiap orang. Yang merasa bisa adil monggo, tafadhal (silahkan). Tapi kalau tidak ada masalah dengan istri (misalnya istrinya baik, sholehah, dan bisa memberikan anak) lalu suami merengek-rengek minta diijinkan menikah lagi atau malah mencari-cari kesalahan istrinya, itu adalah dosa di mata Allah.

Demikian tulisan ini saya buat untuk merespon pertanyaan, artikel atau sumber yang lain. Semoga bermanfaat dan sesungguhnya jika benar maka itu datangnya semata-mata dari Allah SWT. Adapun jika salah itu adalah karena kelemahan atau kekurangan saya semata. Wallahu a’lam


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: