Zen Diary

Seputar Obrolan Ringan, Pengalaman Hidup dan Mutiara Ilmu

Teknologi WSF Janji Naikkan Produktivitas

Posted by zensudarno pada Desember 27, 2007

Bagi pelaku sektor pertanian, kini anda memiliki alternatif. Selain menjanjikan peningkatan produktivitas tanaman, keuntungan lebih besar, pupuk alternatif ini oleh penemunya diharapkan menjadi solusi terhadap masalah krisis pupuk yang kerap mendera petani tatkala memasuki masa tanam. Dengan luas tanaman padi sekitar 12 juta hektare, sekadar contoh, Indonesia berulang kali dihadapkan pada masalah klasik itu. Akibatnya, ketika permintaan akan pangan utama seperti beras bertambah seiring dengan pertambahan penduduk, Indonesia tidak mampu memenuhi permintaan beras secara mandiri. Terutama terkait dengan bencana. Itulah mengapa bangsa ini terus saja harus mengimpor beras dan pendapatan petani tidak mampu meretas kemiskinan.

Skala keekonomian petani yang rendah kerap jadi sasaran tembak atau kambing hitam dari persoalan petani. Sebab, dengan skala ekonomi yang rendah, seperti kepemilikan lahan 0,2 hektare dan produktivitas di bawah empat ton per hektare, petani sulit menyejahterakan dirinya. Keuangan petani tidak mampu menyelaraskan diri dengan terus melambungnya biaya hidup yang dipicu kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok.

Ditambah lagi, pemerintah sendiri alergi terhadap harga beras yang mahal. Selalu dianggap biang keladi yang memicu inflasi.

Bupati Karawang, Jawa Barat, Dadang S. Muchtar, di sela-sela panen perdana padi yang menggunakan teknologi WSF di Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, 24 Agustus, mengakui nasib petani tanaman pangan khususnya padi hingga kini belum beranjak dari angka Rp500.000 hingga Rp700.000 per bulan. Padahal pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan petani padi.

Biaya produksi per hektare memakai WSF dan tanpa WSF

Item

Harga Satuan (Rp)

Pupuk Campuran

Pupuk Campuran
+WSF

Pupuk Majemuk
NPK Pelangi

Pupuk Majemuk
NPK Pelangi+WSF

Pupuk

a. Urea

1.200

300

360.000

150

180.000

100

120.000

50

60.000

b. SP-36

1.850

150

277.500

75

138.750

c. KCL

1.850

75

138.750

25

46.250

d. NPK Pelangi

2.850

300

8.550

150

427.500

e. NP Ponska

2.500

f. WSF

30.000

300.000

10

300.000

g. Obat/pestisida

520.000

10

260.000

415.000

260.000

B i a y a

1.296.250

925.000

1.495.000

1.047.500

Sumber : R. Umar Hasan Saputra 2006.

Kini, seperti yang dijanjikan Umar Hasan Saputra, produk ‘pupuk’ atau nutrisi hasil temuannya -teknologi water stimulating feed (WSF)- akan membantu petani memperbaiki kesejahteraan. “Produksi bisa naik dua kali lipat.”

Presiden Komunitas WSF Internasional Umar Hasan Saputra menyatakan dengan memanfaatkan teknologi WSF untuk tanaman padi, mampu mengurangi penggunaan pupuk kimia hingga 50%.

Dia mengatakan teknologi WSF yang merupakan hasil penelitiannya selama 10 tahun adalah nutrisi esensial yang diperoleh dari sari pati jagung dan menjadi sumber nutrisi bagi tanaman.

Melalui teknologi WSF, kata dia, selain mengurangi tingkat penggunaan pupuk kimia juga memperbaiki kesuburan tanah serta mendorong perkembangan mikroba yang diperlukan tanaman serta meningkatkan produktivitas tanaman.

WSF pada dasarnya adalah teknologi pembentukan nutrisi esensial yang diperlukan tubuh seluruh makhluk hidup, mulai dari tanaman, hewan hingga manusia. Nutrisi itu tidak dapat dihasilkan manusia sendiri. Lazimnya, nutrisi itu didapat dari makanan yang bakal menghasilkan energi bagi kelangsungan hidupnya. Jika manusia mengonsumsi ikan, maka nutrisi esensialnya berasal dari ikan. Sedangkan ikan memperoleh nutrisi esensialnya dari plankton dan seterusya.

Tapi dari mana plankton, sebagaimana bakteri atau hasad renik lainnya, juga dapat membentuk nutrisi esensial sendiri.? Sepuluh tahun melakukan penelitian (sejak 1993), Umar Hasan pun menemukan fenomena pembentukan nutrisi itu. Pada dasarnya mahluk hidup membutuhkan air, garam dan mineral-mineral lainnya.

Kebutuhan nutrisi

Umar berhasil menemukan komposisi yang pas untuk mendapatkan prekusor (trigger) bagi pembentukan nutrisi itu. Berkat prekusor itu, tanaman, hewan dan lingkungan mampu membentuk nutrisi tersebut. Jadi trigger itu simulator. Dampaknya, tanaman mampu memenuhi kebutuhan nutrisi itu dan mampu tumbuh dan berkembang secara optimal.

Maka, menurut dia, penggunaan pupuk kimia pada tanaman padi bisa mencapai 600 kg per hektare setiap musim tanam, sedangkan dengan teknologi WSF hanya diperlukan 10 kg setiap hektare.

Dari pengakuan Umar, di Klaten, dengan teknologi WSF, para petani baru panen padi sebanyak 9,2 ton per hektare. “Biasanya, cuma empat hingga enam ton. Ini juga terjadi di Serang, Bantul, Karawang. Butir padi lebih besar, jumlah anakan lebih banyak dan bangian pangkal yang kosong, kini terisi,” ujarnya.

WSF, yang bisa digunakan untuk tanaman (padi, buah-buahan dan sayur mayur) menawarkan enam keuntungan. Pertama, hasil panen naik dua kali lipat per hektare. Kedua, kualitas hasil panen jauh lebih baik. Bulir padi jauh lebih besar.

Ketiga, percepatan waktu panen. Usia panen biasanya membutuhkan waktu 105 hari. WSF cukup 100 hari. Panen tomat, sawi putih, terung, endame (kedelai asal Jepang) lia hingga 10 hari lebih cepat. Keempat, kebutuhan sarana produksi -seperti urea, KCl, TSP- jadi berkurang hingga 50%.

Hasil perhitungan Roy Sembel, Direktur Program MM Finance Universitas Bina Nusantara, biaya produksi turun dari Rp1,5 juta menjadi di bawah Rp1 juta. Kelima, produk WSF ramah lingkungan karena dibuat dari bahan alami. Keenam, produk WSF cocok untuk lahan tandus yang minim air. Sumber: Martin Sihombing /http://www.bisnis.com

Catatan Zen**: inspirasi awal diperoleh kembali dari Bedah Editorial Harian Media Indonesia (Kamis, 27 Desember 2007) bertajuk “Beban Pangan Membayang”, terlepas dari reaksi pro atau kontra terhadap hasil temuan tsb saat itu antara Sambutan Hangat dari Presiden Sby di Istana, respon Mentan RI, Deptan, masyarakat petani, asosiasi distributor pupuk, isu backing aparat TNI, anggota DPR RI, kalangan akademisi/peneliti di IPB, dll.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: