Zen Diary

Seputar Obrolan Ringan, Pengalaman Hidup dan Mutiara Ilmu

Triharyo Mencoba Hentikan Impor Beras

Posted by zensudarno pada November 30, 2007

Oleh: Imam Prihadiyoko

Kondisi pertanian Indonesia tidak seharusnya terpuruk. Namun, kenyataan memperlihatkan betapa negeri yang seharusnya bisa surplus beras ini sekarang harus mengimpor beras. Meskipun menteri pertanian sedang berjuang untuk melarang impor, Perum Bulog sebagai penyangga ketersediaan beras, dengan sejumlah asumsi dan argumentasinya, tetap merasa perlu mengimpor beras.

Betulkah bangsa ini membutuhkan impor beras, ataukah sekadar permainan pemburu keuntungan. Terlepas dari benar-tidaknya ada permainan pemburu keuntungan, dari segi teknis seharusnya bangsa ini mampu menghasilkan beras yang dibutuhkan warganya. Itulah satu persoalan yang selalu mengganjal pikiran Triharyono Indrawan Soesilo (49).

“Bayangkan, air saja kita impor. Memang bukan dalam bentuk galon air, tetapi dari buah, sayur, daging yang diimpor, jumlahnya tentu bisa membuat Kota Bandung banjir,” ujar Triharyono yang akrab dipanggil Hengki.

Lulusan Jurusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1981 ini ketika ditemui, pekan lalu, sedang nyemplung di sawah menanam benih padi di daerah Bandung Selatan, bersama rekannya sesama alumni ITB. Mereka sedang membimbing petani setempat untuk bertani dengan paradigma pertanian baru.

Selama ini, untuk meningkatkan produksi kita sudah mengenal intensifikasi pertanian. Langkah intensifikasi itu antara lain dilakukan dengan menggali potensi genetika tanaman dengan mencari bibit padi unggul, meningkatkan input eksternal, seperti air, pupuk, dan insektisida. Namun, tampaknya ada yang terlewat dalam intensifikasi pola lama ini bahwa tanah sebagai media tanamnya bisa sakit. Pupuk buatan yang dipakai ternyata berdampak pada menurunnya kesehatan tanah. Tidak heran kalau kemudian marak pertanian organik, yang hasilnya banyak dicari orang seiring kesadaran tentang keinginan hidup sehat, kembali ke alam, dan perilaku yang ramah lingkungan.

Akan tetapi, pada awalnya pertanian organik yang tidak menggunakan pupuk buatan ini hasilnya tidak sebanyak padi yang ditanam dengan pupuk buatan. Tak heran kalau tidak banyak petani yang tertarik karena produk pertanian organik menjadi lebih mahal ketimbang pertanian biasa. Namun, sistem pertanian organik terus dikembangkan.

Bahkan, yang sudah terjun dan mencoba memproduksi padi organik bukan saja petani, melainkan organisasi keagamaan dan sejumlah partai politik juga sudah mulai ikut menerapkannya. Dengan metode pertanian organik ini, salah satu organisasi keagamaan berhasil meningkatkan produktivitas pertanian mereka dari 3 ton-5 ton menjadi 8 ton-9 ton per hektar di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Dengan hasil ini, dengan pertanian organik produksi lebih baik dibandingkan dengan model pertanian konvensional yang dikenal melalui revolusi hijau selama ini.

Paradigma baru

Memang ada kemiripan antara pertanian organik dan pertanian paradigma baru yang diterapkan para alumnus ITB di sejumlah sawah di Bandung Selatan. Perbedaan yang paling mendasar adalah konsep yang memperlakukan tanah sebagai bioreaktor. Paradigma yang menempatkan tanah sebagai bioreaktor ini memungkinkan pengelolaan air yang lebih hemat, biaya murah, dan hasil yang lebih besar dari pertanian konvensional maupun organik biasa.

Selain itu, model ini juga memanfaatkan kompos yang dibuat sendiri. Kompos bukan berfungsi sebagai pengganti pupuk, melainkan untuk menggemburkan tanah dan mengikat air.

“Lokasi pertanian di Bandung Selatan ini mulai terdesak oleh perkembangan Kota Bandung. Bahkan, irigasi teknis yang selama ini mampu mengairi sawah mulai terganggu karena dimodifikasi untuk mengalirkan air lebih cepat pada musim hujan agar tidak membanjiri kota. Namun, akibatnya, posisi sawah berada di atas saluran sehingga untuk mengairi sawah petani harus memompanya dengan mesin. Ini kan berarti ada ongkos tambahan yang keluar,” ujarnya.

Berangkat dari persoalan semacam ini, sekelompok alumni ITB mulai meneliti dan mengembangkan konsep bertani yang tidak membutuhkan banyak air. Apalagi, tanaman padi sebenarnya bukanlah tanaman air meskipun membutuhkan air.

Prinsip penting dalam bertanam padi adalah bagaimana memunculkan anakan padi sebanyak mungkin. Untuk itu, ditempuh cara dengan menanam benih padi yang sudah disemai maksimal 10 hari. Jadi, benih padi ditanam sebelum keluar buku-bukunya yang biasanya mulai muncul pada hari ke-12 setelah disemai. Benih ditanam dengan jarak 30-50 cm untuk memberi ruang gerak yang lebih bebas bagi akar padi dalam mendapatkan makanan. Dengan cara ini, dari sebutir benih dihasilkan hingga 30 anakan padi.

Sistem ini dinilai sangat cocok dengan kondisi Indonesia yang lahan pertaniannya sering menghadapi masalah air jika menerapkan intensifikasi pertanian konvensional. Apalagi, tidak semua lahan pertanian di Indonesia mempunyai irigasi teknis yang baik untuk menjamin kecukupan airnya. Selain itu, benih yang dipakai pun tidak terlalu banyak.

Sistem ini tidak saja sudah diuji coba di laboratorium, tetapi sudah diterapkan selama dua tahun terakhir. Setiap satu hektar sawah dihasilkan hingga 16 ton. Bahkan, sudah ada investor yang tertarik memberikan modal untuk menerapkan intensifikasi model ITB itu dan mengembangkan kerja sama dengan memberikan pendampingan kepada petani.

“Guru besar ITB, Prof Mubiar Kartasasmita, bahkan memperkirakan, jika separuh saja lahan pertanian di Indonesia menerapkan sistem seperti yang ITB lakukan, ketersediaan pangan bisa terjamin,” ujar Hengki.

Bayangkan, beras organik di tingkat petani dihargai Rp 7.000 per kilogram, jauh lebih mahal ketimbang harga beras biasa yang sering kali jatuh hingga Rp 1.500 pada saat panen. Kalau sudah sampai di kota besar seperti Jakarta, harga beras organik bervariasi antara Rp 10.000 dan Rp 20.000 per kilogram. Jika saja perlakuan pascapanen ditangani dengan baik, bukan tidak mungkin kemakmuran petani akan terwujud.

“Apalagi, alumni ITB sebenarnya banyak yang menduduki posisi kunci di negeri ini. Jika ini dimanfaatkan sebagai jaringan untuk membangkitkan kepedulian dan keberpihakan pada petani, obsesi ini tidak lagi menjadi khayalan dan omong kosong,” ujarnya.

Industri

Pengelolaan tanaman padi secara terpadu sebenarnya memungkinkan lahirnya peluang industri di desa. Terbukanya peluang industri di desa tentu membuka kesempatan bagi tenaga kerja. Ini tentu akan sangat berarti bagi upaya mengurangi masalah pengangguran di Indonesia.

Tidak heran kalau Hengki terobsesi untuk memulai gerakan ini dari Jawa Barat mengingat ITB berada di wilayah ini. Jika sukses, barulah model pertanian itu disebarkan ke provinsi lain.

“Ini sebenarnya bagian dari obsesi lama saya yang sempat terhenti karena tidak tahu harus dimulai dari mana. Tetapi, untunglah teman-teman di ITB tetap mempunyai komitmen pada masyarakat dan keprihatinan pada problem besar yang dihadapi bangsa ini,” ujar Hengki yang waktu senggangnya banyak dihabiskan untuk menulis di blog-nya.

Lahan pertanian di Jabar akan terus menyusut seiring dengan perkembangan industri.

“Di sinilah muncul keinginan saya untuk mengajak semua alumnus ITB yang sudah berhasil untuk mau membangun pertanian, bahkan juga mengembangkan energi alternatif yang sangat dibutuhkan saat ini,” ujarnya.

Sumber: Kompas  21/11/2007

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: