Zen Diary

Seputar Obrolan Ringan, Pengalaman Hidup dan Mutiara Ilmu

Tentang Assalamu’alaikum..

Posted by zensudarno pada September 12, 2007

Berkaitan dengan topik Assalamu’alaikum, saya punya pemahaman/pengetahuan yang mungkin sedikit berbeda:

1. Soal AKUM yang ditengarai berasal dari bahasa ibrani dan digunakan oleh kaum yahudi untuk menyebut kaum di luar mereka yang berarti ‘binatang dan bisa dipastikan merupakan penghinaan buat kita (umat muslim) maka sudah barang tentu wajib bagi kita berlepas diri dari hal tersebut. Baik ketika kita mengucapkannya atau hanya sekedar singkatan kalimat ala kita dalam surat, email atau sms. Dan kalau ada sahabat/temen kita yang menggunakannnya dan ia tidak mengetahuinya maka menjadi kewajiban bagi kita untuk menyampaikan hal yang sebenarnya.

2. Ass, aswb, aww, assalam, salam dst. (termasuk penulisan kata Allah SWT dg 4jj1/4JJ1) yg lebih populer atau biasa digunakan oleh kita di sebuah surat, email, chat, sms dsj. maka menurut pemahaman saya tidak bermasalah asal tidak mengandung makna jahat dibalik singkatan kata/kalimat tsb. Namun demikian, jika kita mendapatkannya maka ada sebagian ulama yang memfatwakan tetap hukumnya kita wajib menjawabnya ketika kita membacanya. Artinya, tidak hanya kita balas dengan jawaban salam yang lebih baik atau minimal sepadan namun ketika kita tidak berkenan untuk membalasnya pun kita tetap diwajibkan untuk membalasnya (saat kita membacanya). Catatan: Sebaiknya kita jangan terlalu mudah terpengaruh dengan datangnya suatu berita yang datangnya dari suatu sumber yang tidak jelas sebelum kita fikirkan dan minimal bertanya kepada mereka yang lebih faham, karena yakinlah musuh2 Islam akan selalu memerangi kita dengan cara apapun. Coba kita bayangkan, jika ternyata ada sebagian dari teman-teman kita yang justru takut menuliskan kata2 Allah SWT atau kata2 lain yg sebenarnya islami. Lantas, kata2 Islami tersebut tidak akan pernah lagi tertulis atau minimal untuk sekedar diniatkan oleh umat muslim di media manapun, sedangkan di sisi lain musuh2 Islam akan bersuka cita..dengan kemenangan mereka.

3. Jika ada orang non muslim mengucapkan salam “Assalamu’alaikum…maka kita cukup membalasnya dengan ucapan “Wa’alakum. (tidak perlu ditambah dengan lebih lengkap karena ia tidak memiliki hak mendapatkan salam atau do’a selamat dari kita karena dia (mereka) tidak seaqidah dengan kita.

4. Jika kita menerima telefon, maka sebenarnya keliru (salah) ketika saat kita mengangkatnya justru kita yang pertama kali mengucapkan salam. Keliru/salah tempat jika kita bermaksud orang yang pertama kali mengucapkan salam adalah yang paling utama. Sebab;

a. Hukumnya kemudian bisa disamakan seperti ada seorang tamu datang ke rumah kita namun justru kita yang mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Ini aneh dan menyalahi bagaimana adab/akhlak bertamu dalam islam. Dan sedikit tambahan, ketika kita bertamu pun akhlak yang benar atau lebih tepat menurut al islam adalah; ucapkan salam terlebih dahulu baru kemudian mengetuk pintu atau menekan bel (bukan sebaliknya). Demikianlah al Islam mengaturnya dengan sedetail mungkin hingga ucapan salam kita yang ketiga kalinya. Jika sampai ketiga kali kita mungucapkan salam (plus mengetuk pintu, bel, pagar rumah dsj) tidak ada jawaban dari dalam rumah maka wajib bagi kita untuk meninggalkannya dan mengurungkan niat kita untuk bertamu saat itu.

b. Ketika ternyata, yang menelefon adalah orang non muslim dan tiba2 kita mendahuluinya dengan ucapan salam maka ini pun menjadi sebuah kesalahan fatal yang seharusnya tidak dilakukan oleh kita dengan kebiasaan yang kita anggap baik padahal ternyata salah.

5. Jika suatu saat kita adalah yang pertama kali mengucapkan salam dengan suara cukup jelas dan kita yakin dia (mereka) mendengarnya namun ternyata dia (mereka) tetap diam…atau justru malah dia mengucapkan salam seolah2 dg ‘assalamu’alaikum (artinya sama dengan ucapan kita di awal) maka hukumnya kita boleh untuk diam atau tidak perlu menjawabnya dengan ucapan wassalamu’alaikum dst.. Sebab, justru dia (mereka) yang seharusnya menjawab salam kita.

NB: Untuk point 5. sebaiknya untuk pertama kali atau maksimal untuk yang kedua kali kita tetap berhusnudzon saja kalau dia (mereka) memang tidak mendengar ucapan salam kita sekalipun sudah diucapkan dengan jelas (keras) dan kita memang selalu ingin mendapatkan keutamaan dengan yang paling pertama kali mengucapakan salam. Adapun jika ternyata dia (mereka) tetap berperilaku demikian maka point 5 tersebut bisa kita amalkan. Besar kemungkinan jika dia (mereka) tetap konsisten dengan membalas salam kita dengan ucapan serupa atau bahkan dia tetap diam maka yakinlah dan lebih berhati2lah terhadap dia (mereka) karena biasanya dia (mereka) adalah dari golongan orang-orang atau jamaah yang insyaAllah di luar jama’ah Ahlussunnah wal jama’ah. Dan pendapat yang paling ekstrem mengindikasikan bahwa mereka adalah golongan jama’ah sesat lagi menyesatkan!. Naudzubillahi min dzaalik… Namun demikian, tetaplah kita berusaha untuk tetap berbuat baik terhadapnya kecuali dia (mereka) dengan terang-terangan menyatakan diri sebagai musuh Islam, berbuat dzolim dan memerangi kita. Wallahu a’alam bi shawab.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: