Zen Diary

Seputar Obrolan Ringan, Pengalaman Hidup dan Mutiara Ilmu

Kiat Mengajak Muslimah Berjilbab

Posted by zensudarno pada Juli 3, 2007

Oleh : Siti Tri Zakiyah (dikutip dan diedit ulang secara bebas)

A. Bijak Menyikapi Kekurangan Orang Lain

Bagaimana mengajak saudara, teman, dan para muslimah di sekitar kita berjilbab? Atau setidaknya, bagaimana cara menyikapi para muslimah yang belum sempurna menutup auratnya? Sebelum menjawab semua itu, mari kita coba upayakan bagaimana kiat2 secara bijak menyikapi kekurangan yang ada pada orang lain.

Pertama, Bersyukur kepada Allah SWT jika kita tidakk memiliki kekurangan yang serupa dengan orang yang kita saksikan kekurangannya. Sesungguhnya, kita terhindar dari kekurangan itu pun pada hakikatnya adalah karunia-Nya.

Kedua, Berlindung kepada Allah SWT dari memiliki kekurangan yang serupa. Jika bukan karena perlindungan Allah, belum tentu kita terhindar dari keadaan semacam itu.

Ketiga, Doakan orang yang memiliki kekurangan agar berubah menjadi lebih baik. Doakan pula orang yang berbuat salah agar dibimbing Allah SWT untuk segera bertaubat dan memperbaiki diri.

Keempat, Sampaikan dakwah kepadanya. Informasikan manfaat setiap amal yang kita perbuat. Informasikan kerugian dan dampak buruk yang dialami oleh diri kita sendiri, juga oleh orang2 di sekitar kita akibat dari apa yang kita perbuat. Bisa jadi seseorang berbuat salah, karena belum mengetahui hal itu salah atau belum tahu akibat buruk perbuatannya. Kiat di atas dapat digunakan bila melihat para muslimah yang cara berpakaiannya atau cara berhijabnya masih belum sempurna, misalnya ;

Kelima,Jika kita telah sempurna menutup aurat, maka bersyukurlah kepada Allah SWT. Jangan sampai kita menjadi ujub (bangga diri) dan sombong (merasa diri lebih baik atau lebih shalihat). Karena sesungguhnya, kita bisa menutup aurat dengan baik pun adalah semata2 karena rahmat dan karunia-Nya. Jika Allah tidak membimbing kita, belum tentu kita berbuat lebih baik.

Keenam, Senantiasa berlindung kepada Allah dari cara berpakaian yang tak disukai-Nya. Ada sebuah kisah nyata, saya pernah melihat seorang muslimah yang pakaiannya sangat terjaga, kemudia ia memperbincangkan sekelompok muslimah yang pakaiannya belum sempurna. Sayangnya, tak berapa lama kemudian ia pun berpakain seperti para muslimah yang ia perbincangkan. Artinya, bila tidak berlindung kepada Allah, bisa saja suatu saat kita enggan menyempurnakan penutup aurat kita. Naudzubillahi mindzalik.

Ketujuh,, Doakan saudara kita yang belum sempurna cara menutup auratnya agar segera menyempurnakannya. Jangan sampai kita menyebarkan aib dan ghibah, karena semua itu tidak membuat menjadi bertaubat atau menjadi lebih baik. Bahkan perbuatan itu hanya menambah dosa bagi kita.

Kedelapan, Informasikan terhadap para muslimah yang belum menutup aurat dengan sempurna tentang manfaat memakai jilbab dengan benar. Dalam menginformasikan hal ini, kita bisa menggunakan kiat-kiat yang sudah cukup poluler menuju sebuah perubahan dengan formula 3 M (Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang terkecil, Mulai saat ini juga), serta kiat berdakwah dengan menggunakan formula 3 A (Aku bukan ancaman bagimu, Aku menyenangkan bagimu, dan Aku bermanfaat bagimu).

B. Menyampaikan Ilmu

Orang-orang yang lahir di lingkungan baik, tentu etika/tata nilainya tidak sama dengan orang-orang yang lahir di lingkungan yang kurang baik. Begitu pula para muslimah yang lahir di lingkungan yang kurang kondusif, mungkin tak pernah merasa malu dan bersalah jika auratnya tak tertutup sempurna, karena sejak kecil tidak terbiasa melihat para wanita di lingkungan keluarganya menutup aurat dengan baik. Berbeda dengan wanita yang lahir di lingkungan moralis, misalnya di lingkungan para pendidik, pesantren, atau di lingkungan orang-orang saleh maka ia akan merasa malu, terhina dan merasa bersalah jika auratnya tak terjaga.

Upaya amar ma’ruf nahyi ‘anil munkar harus dimulai dengan penyampaian ilmu. Paksaan untuk menyampaikan ilmu/pengetahuan kita sekalipun hanya satu ayat misalnya seruan Al Qur’an kaumperempuan untuk mengenakan hijab (misalnya QS. Annur: 31 dan QS Al Ahzab: 59) secara optimal dan dengan cara terbaik dan selembut mungkin.

Ambil contoh, suatu saat pernah ada seorang mualaf yang ingin masuk islam, tapi tidak mau melaksanakan shalat, kemudian Rasul SAW membiarkannya masuk Islam dan tidak memaksanya melaksanakan shalat. Setelah ia memahaminya, seiring bertambahnya ilmu dan pengalaman yang dilaluinya, akhirnya ia mau mengerjakan shalat. Jika tidak, maka kita bagai memaksa orang yang tidak bisa berenang untuk mencapai tempat tujuan dengan berenang. Bagaimana mungkin ia bisa sampai di tujuan, bila tidak bisa berenang. Langkah awal yang harus dilakukan adalah mengajarinya berenang agar tahu bagaimana cara mengambang, bergerak, dan berjalan di permukaan air, kemudian ia harus gigih berlatih secara sistematis dan berkesinambungan.

Jika ia sudah pandai berenang, tapi tidak mau menjalankan tugas dan kewajibannya untuk mencapai tujuan itu, barulah dia boleh “dipaksa”. Adapun kalau kita masih menyaksikan begitu banyak para muslimah yang belum sempurna menutup auratnya, Pertanyaannya adalah sejauh mana kita telah mensosialisasikan dan membuat mereka paham tentang bagaimana cara berpakaian yang paling disukai Allah?. Bukan lantas menyalahkan mereka atau malah membencinya…

Oleh karena itu, salah satu sikap yang cukup bijak buat kita adalah jangan pernah tergesa-gesa untuk menyalahkan mereka, ini justru hutang kita kepada mereka. Bisa jadi, hal ini pun tetap terjadi karena salah satunya kesalahan kita akibat kita lalai dalam beramar ma’ruf nahyi ‘anil munkar, hingga hak mereka untuk mendapatkan ilmu tertahan oleh kemalasan dan keenganan kita berdakwah.

Selain itu, setiap orang juga harus melakukan instropeksi diri, ”Seberapa banyak ilmu yang sudah saya dapatkan, hingga sejauh mana saya harus mengamalkan ilmu yang telah saya dapatkan itu?” atau, “Apakah karena ilmu saya memang masih sangat sedikit, hingga belum mau menggunakan penutup aurat yang sempurna?” Jika demikian, maka carilah ilmu sebanyak-banyaknya untuk mengetahui dan memahami tentang bagaimana cara berpakaian yang paling disukai Allah.

Bagaimana seharusnya para muslimah menutup auratnya?

Maka Setidaknya sebagai berikut:

Pertama, kain yang digunakan menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan Kedua, tidak transparan (untuk menghilangkan penampakannya).

Ketiga, tebal, artinya tidak tipis (untuk menghilangkan bentuk aurat).

Keempat, warna tidak terlalu mencolok atau tidak terlalu banyak hiasan (agar tidak terlalu menarik perhatian lelaki yang bukan mahram). K

Kelima, hindari wewangian yang berbau terlalu harum semerbak. Bahkan sebenarnya tidak menggunakannya pun jauh lebih utama kecuali buat suaminya.

C. Awali dari Diri Sendiri
Dalam sebuah diskusi, seorang peserta yang belum berjilbab mengungkapkan isi hatinya sebagai berikut:

Ia memiliki seorang teman yang sudah berjilbab dan sering mengajaknya mengenakan jilbab. Tapi, muslimah yang sudah berjilbab ini akhlaknya kurang baik, dia masih kurang menjaga hijab dengan lawan jenisnya, bahkan dia masih suka berpacaran dan seringkali menunjukkan sikap yang kurang baik. Akibatnya, ia memilih untuk tidak berjilbab asalkan bisa menjaga dirinya, dari pada berjilbab tapi akhlaknya masih buruk. Bahkan, seringkali dia antipati melihat wanita berjilbab yang belum dikenalnya.

Artinya, setiap kali kita akan berdakwah, bertanyalah pada diri sendiri terlebih dahulu, “Apakah yang akan saya sampaikan sudah sesuai atau belum dengan apa yang sekarang saya lakukan?” atau setidaknya, “Apakah saya sudah berupaya secara maksimal untuk mengamalkan apa yang akan saya sampaikan atau tidak?” atau, “Apakah perbuatan dan akhlak saya sudah mendukung apa yang akan saya sampaikan atau tidak?”

Menyampaikan ilmu atau menganjurkan kebaikan kepada orang lain itu ibarat mengepel lantai sebuah ruangan. Diri kita itu ibarat lap pel, sedangkan yang orang lain itu ibarat lantai. Lap pel harus bersih, jika tidak, maka ruangan itu akan bertambah kotor. Bayangkan!, bila kita mengepel lantai kamar kita dengan lap pel bekas mencuci kotoran. Hasilnya, bukan membersihkan kamar, tapi malah mengotorinya.

Begitupula halnya dengan kasus di atas. Karena muslimah berjilbab yang mengajaknya itu belum sanggup memberikan contoh yang nyata buat temannya, maka akhirnya temannya itu bukannya segera ingin berjilbab, tapi malah mendapatkan citra yang tidak tepat tentang wanita berjilbab. Akhirnya, dakwahnya bukan membuat temannya menjadi berubah menjadi lebih baik, tetapi malah membuatnya makin jauh dari pemahaman tentang islam yang sebenarnya, bahkan mungkin makin jauh dari Allah SWT. Na’uudzubillah min dzaalik.. Karenanya, awalilah selalu dari diri kita sendiri.

Sering juga timbul pertanyaan, “Mana yang lebih baik, wanita yang berjilbab tapi akhlaknya buruk atau wanita yang belum berjilbab tapi akhlaknya lebih terjaga?”.

Kita jadi teringat kisah terkenal Buya Hamka ketika beliau ditanya seseorang, “Ya Buya, saya memiliki 2 orang tetangga; yang satu seorang Insinyur yang tidak suka shalat tetapi akhlaknya baik dan yang satunya lagi seorang Haji yang suka shalat, tetapi akhlaknya buruk. Mana yang lebih baik diantara mereka?”

Beliau menjawab, “Insinyur itu belum suka shalat saja akhlaknya sudah baik, apalagi kalau beliau rajin shalat. Sedangkan Pak Haji itu, syukur beliau suka shalat. Kalau tidak suka shalat, mungkin akhlak beliau lebih buruk dari itu.”

Kisah ini bisa kita analogikan untuk pertanyaan diatas. Akhwat yang belum berjilab itu, belum berjilbab saja akhlaknya sudah baik, apalagi kalau dia sudah bejilbab. Akhwat yang sudah berjilbab itu, syukur dia sudah berjilbab. Jika tidak berjilbab, mungkin akhlaknya jauh lebih buruk dari dia yang belum berjilbab.

Pakaian memang bukan satu-satunya alat ukur untuk menentukan kemuliaan akhlak seseorang.

Muslimah yang pakaiannya sempurna belum tentu akhlaknya baik, tetapi muslimah yang berakhlak baik pasti akan semakin sempurna cara menutup auratnya. Semakin sempurna cara akhwat menutup auratnya maka semakin tinggi peluang akhwat tersebut berakhlak baik. Sebaliknya, semakin tidak sempurna cara akhwat menutup auratnya maka semakin tinggi pula peluang akhwat/perempuan tersebut berakhlak buruk.

Jadi, kalau ada akhwat yang sudah berjilbab tetapi akhlaknya kurang baik, maka solusinya adalah ia harus memperbaiki akhlaknya, bukan berarti ia harus melepaskan atau mengurangi kesempurnaannya berhijab. Sebaliknya, bila ada akhwat akhlaknya baik tetapi belum berjilbab, maka ia tetap harus menyempurnakan hijabnya, karena meyempurnakan hijab adalah kewajiban setiap muslimah. Wallahu‘alam……………

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: