Zen Diary

Seputar Obrolan Ringan, Pengalaman Hidup dan Mutiara Ilmu

Arsip untuk ‘Opini Lepas’ Kategori

My Favorite President of Truly, Nowdays

Ditulis oleh zensudarno di/pada Juni 24, 2009

Nowdays, My Favorite President of Truly is Mahmoud Ahmadinejad (President of  Iran).

Salah satu ucapan Mahmoud Ahmadinejad yang menjadi salah satu rahasia kemenangannya dalam pemilihan Presiden Republik Islam Iran, 12 Juni lalu, adalah “Saya ingin menghadirkan hasil minyak Iran ke dalam piring-piring rakyat”.

Ahmadinejad pada awalnya tidak dikenal siapa pun. Namun kemudian menjadi ikon bagi negeri-negeri tertindas untuk tetap mempertahankan harga diri dan kehormatan bangsanya.

Dalam penampilannya Ahmadinejad kerap tampil low profile dengan selalu mengenakan kemeja tanpa dasi, potongan jas sangat biasa, celana panjang lusuh plus sepatu butut. Ahmadinejad dikenal teguh mempertahankan harga diri dan kehormatan bangsanya. Ahmadinejad dikenal dunia bukan karena kepura-puraannya tapi karena kerja nyatanya. Sebagai presiden, ia dan keluarga tinggal di sebuah apartemen sederhana di kawasan kelas menengah bawah di Nurmagi Tenggara Teheran. Apartemen yang sudah ia tempati sejak menjadi walikota Teheran itu memiliki beberapa kamar dan halaman parkir untuk dua mobil saja.

Jangan bayangkan kantor Ahmadinejad seperti Istana Merdeka di Jakarta. Ruang kerja anak pandai besi ini, hanya sebentuk bangunan kecil di wilyah padat penduduk di Teheran. Ia pun telah membuktikan dalam programnya dengan menggelontorkan dana sebesar 12 triliun rial (sekitar 1,3 milyar dolar AS) untuk membantu anak-anak muda mendapat pekerjaan, mendanai penyelenggaraan pernikahan sekaligus memberikan mereka rumah.

Subhanallah…

Bagaimana, menurut menurut Anda???

Ditulis dalam Opini Lepas | Leave a Comment »

Sepotong Taushiah

Ditulis oleh zensudarno di/pada November 30, 2007

” Belajar: Hidup disiplin, Bersyukur, Ikhlas, Sabar, Qona’ah, Itsar (mengalah), Berkata dg lemah-lembut tapi tegas, Diam tapi berfikir, Ikhtiar seoptimal dan se’kreatif mungkin secara smart, Senantiasa berhusnudzon, Bermanfaat buat orang lain, Kaya hati, Kaya ilmu, Tetap jujur dan Tetap rendah hati.. (Zen, 30 /11/2007).

Ditulis dalam Opini Lepas | Leave a Comment »

Tentang Assalamu’alaikum..

Ditulis oleh zensudarno di/pada September 12, 2007

Berkaitan dengan topik Assalamu’alaikum, saya punya pemahaman/pengetahuan yang mungkin sedikit berbeda:

1. Soal AKUM yang ditengarai berasal dari bahasa ibrani dan digunakan oleh kaum yahudi untuk menyebut kaum di luar mereka yang berarti ‘binatang dan bisa dipastikan merupakan penghinaan buat kita (umat muslim) maka sudah barang tentu wajib bagi kita berlepas diri dari hal tersebut. Baik ketika kita mengucapkannya atau hanya sekedar singkatan kalimat ala kita dalam surat, email atau sms. Dan kalau ada sahabat/temen kita yang menggunakannnya dan ia tidak mengetahuinya maka menjadi kewajiban bagi kita untuk menyampaikan hal yang sebenarnya.

2. Ass, aswb, aww, assalam, salam dst. (termasuk penulisan kata Allah SWT dg 4jj1/4JJ1) yg lebih populer atau biasa digunakan oleh kita di sebuah surat, email, chat, sms dsj. maka menurut pemahaman saya tidak bermasalah asal tidak mengandung makna jahat dibalik singkatan kata/kalimat tsb. Namun demikian, jika kita mendapatkannya maka ada sebagian ulama yang memfatwakan tetap hukumnya kita wajib menjawabnya ketika kita membacanya. Artinya, tidak hanya kita balas dengan jawaban salam yang lebih baik atau minimal sepadan namun ketika kita tidak berkenan untuk membalasnya pun kita tetap diwajibkan untuk membalasnya (saat kita membacanya). Catatan: Sebaiknya kita jangan terlalu mudah terpengaruh dengan datangnya suatu berita yang datangnya dari suatu sumber yang tidak jelas sebelum kita fikirkan dan minimal bertanya kepada mereka yang lebih faham, karena yakinlah musuh2 Islam akan selalu memerangi kita dengan cara apapun. Coba kita bayangkan, jika ternyata ada sebagian dari teman-teman kita yang justru takut menuliskan kata2 Allah SWT atau kata2 lain yg sebenarnya islami. Lantas, kata2 Islami tersebut tidak akan pernah lagi tertulis atau minimal untuk sekedar diniatkan oleh umat muslim di media manapun, sedangkan di sisi lain musuh2 Islam akan bersuka cita..dengan kemenangan mereka.

3. Jika ada orang non muslim mengucapkan salam “Assalamu’alaikum…maka kita cukup membalasnya dengan ucapan “Wa’alakum. (tidak perlu ditambah dengan lebih lengkap karena ia tidak memiliki hak mendapatkan salam atau do’a selamat dari kita karena dia (mereka) tidak seaqidah dengan kita.

4. Jika kita menerima telefon, maka sebenarnya keliru (salah) ketika saat kita mengangkatnya justru kita yang pertama kali mengucapkan salam. Keliru/salah tempat jika kita bermaksud orang yang pertama kali mengucapkan salam adalah yang paling utama. Sebab;

a. Hukumnya kemudian bisa disamakan seperti ada seorang tamu datang ke rumah kita namun justru kita yang mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Ini aneh dan menyalahi bagaimana adab/akhlak bertamu dalam islam. Dan sedikit tambahan, ketika kita bertamu pun akhlak yang benar atau lebih tepat menurut al islam adalah; ucapkan salam terlebih dahulu baru kemudian mengetuk pintu atau menekan bel (bukan sebaliknya). Demikianlah al Islam mengaturnya dengan sedetail mungkin hingga ucapan salam kita yang ketiga kalinya. Jika sampai ketiga kali kita mungucapkan salam (plus mengetuk pintu, bel, pagar rumah dsj) tidak ada jawaban dari dalam rumah maka wajib bagi kita untuk meninggalkannya dan mengurungkan niat kita untuk bertamu saat itu.

b. Ketika ternyata, yang menelefon adalah orang non muslim dan tiba2 kita mendahuluinya dengan ucapan salam maka ini pun menjadi sebuah kesalahan fatal yang seharusnya tidak dilakukan oleh kita dengan kebiasaan yang kita anggap baik padahal ternyata salah.

5. Jika suatu saat kita adalah yang pertama kali mengucapkan salam dengan suara cukup jelas dan kita yakin dia (mereka) mendengarnya namun ternyata dia (mereka) tetap diam…atau justru malah dia mengucapkan salam seolah2 dg ‘assalamu’alaikum (artinya sama dengan ucapan kita di awal) maka hukumnya kita boleh untuk diam atau tidak perlu menjawabnya dengan ucapan wassalamu’alaikum dst.. Sebab, justru dia (mereka) yang seharusnya menjawab salam kita.

NB: Untuk point 5. sebaiknya untuk pertama kali atau maksimal untuk yang kedua kali kita tetap berhusnudzon saja kalau dia (mereka) memang tidak mendengar ucapan salam kita sekalipun sudah diucapkan dengan jelas (keras) dan kita memang selalu ingin mendapatkan keutamaan dengan yang paling pertama kali mengucapakan salam. Adapun jika ternyata dia (mereka) tetap berperilaku demikian maka point 5 tersebut bisa kita amalkan. Besar kemungkinan jika dia (mereka) tetap konsisten dengan membalas salam kita dengan ucapan serupa atau bahkan dia tetap diam maka yakinlah dan lebih berhati2lah terhadap dia (mereka) karena biasanya dia (mereka) adalah dari golongan orang-orang atau jamaah yang insyaAllah di luar jama’ah Ahlussunnah wal jama’ah. Dan pendapat yang paling ekstrem mengindikasikan bahwa mereka adalah golongan jama’ah sesat lagi menyesatkan!. Naudzubillahi min dzaalik… Namun demikian, tetaplah kita berusaha untuk tetap berbuat baik terhadapnya kecuali dia (mereka) dengan terang-terangan menyatakan diri sebagai musuh Islam, berbuat dzolim dan memerangi kita. Wallahu a’alam bi shawab.

Ditulis dalam Opini Lepas | Leave a Comment »

Hakikat Jodoh dan Dewasa Buat Kita

Ditulis oleh zensudarno di/pada Agustus 2, 2007

Sebagai sebuah mysterius problem sekaligus sebagai sebuah takdir selain perkara rizki, ajal, dan amal perbuatan kita adalah “Saqiyyun au Sa’iid..dan di dalamnya kita mengenal istilah JODOH. Hal ini sesungguhnya bukanlah merupakan kekhususan atas nama kekhawatiran bagi para akhwat, namun para ikhwan pun termasuk di dalamnya terutama ketika mereka sudah berada pada masa atau usia pernikahan. Kemana pun mereka melangkah, pertanyaan-pertanyaan “kreatif” baik dari diri sendiri maupun orang-orang yang mengenalnya tiada henti membayangi. ”Kapan ana menikah?, Kapan antum menikah? Mas, Mba..Pak…dst? Udah punya pacar blom? Lohh??…Calon isteri maksudnya. Dan mungkin, sebagian dari kita kemudian akan tersenyum ketika kita melihat sebuah iklan di tv atau sebuah poster iklan di jalan ketika pertanyaan senada dibuat untuk menyindir kita (kiiita?:)) maka sang artis pun dengan enteng dan tanpa merasa bersalah menjawab: ”Maybe Yes, Maybe No..” :)

”Saya rindu seorang pendamping, namun siapa? Seorang alim senior diceritakan datang menghampiri seorang pemuda (alim junior) yang terlihat sedih dan murung seperti sedang bergelut dalam suatu masalah. Kemudian beliau semakin mendekati pemuda tersebut dan berkata: ”Wahai anak muda…bukankah antum seorang yang alim, namun mengapa engkau terlihat sedih dan seperti sedang memendam masalah?..Si pemuda tersebut pun lantas mulai bercerita…dan di akhir ceritanya Sang Alim Senior berkata dengan bijak. ”Ketahuilah anak muda, tidak pantas seorang yang alim merasa bersedih hati hingga berlama-lama dengan ujian yang sedang ia hadapi (apapun bentuk ujian atau cobaan tersebut). Karena sekecil apapun yang terjadi di muka bumi ini Allah sudah mengaturnya kok!. ”Bukankah setiap ujian dan cobaan yang menimpa kita tersebut memang Allah SWT yang berkehendak?, semua yang terjadi di dunia dan khususnya yang menimpa kita itu pastilah berakhir, karena yang kekal hanyaalah Dia. Bahwa sesungguhnya semua perkara yang menimpa kita sebagai seorang mu’min adalah pada hakikatnya tetap bernilai baik dan berpahala. ”Sebab, jika Alllah SWT memberi ujian berupa ni’mat kepada orang-orang mu’min adalah pada hakikatnya agar mereka senantiasa bersyukur dan jika Alllah SWT memberikan cobaan buat mereka berupa masalah atau kesulitan maka mereka pun tetap bersabar”.

Ada seorang teman mengatakan: ”Aku iri melihat wanita muda menggendong bayi, kapan giliranku dipanggil ibu? ”Aku jadi ragu, benarkah aku punya jodoh? Atau jangan-jangan Tuhan berlaku tidak adil?. Maka InsyaAllah apa yang ia pertanyakan tersebut sebenarnya timbul karena kekuranganfahaman ia tentang Syumuliyah Ad dienul Islam. Di sana sudah terang disebutkan bahwa kita hanya dibolehkan iri cuma terhadap 2 hal: 1. Seseorang yang alim (berilmu), ia mengamalkan ilmunya dan ia sampaikan ilmunya dengan cara mengajarkannya kepada orang lain, 2. Seseorang yang kaya raya namun ia dermawan. Selain kedua hal tersebut maka kita dilarang dan hukumnya menjadi berdosa manakala kita iri terhadap perkara yang lain. Namun jika kemudian kita lebih cermat dalam memilih kata, maka jika maksudnya ialah sekedar keinginan yang sangat kuat dan mendalam untuk memilikinya atau merasakannya untuk kemudian diungkapkan melalui do’a kita kepada Allah SWT Yang Maha Mendengar lagi Maha Menerima do’a para hamba-Nya dengan sebenar-benarnya maka itu hukumnya boleh, sangat wajar dan merupakan hal yang sangat dianjurkan secara syar’i.

”Jangan pernah meragukan kekuasaan Allah, karena sesungguhnya ia akan memberikan atau berlaku adil seperti sangkaan hambaNya.. Dan Demi Allah, kalau bukan Allah yang memiliki keadilan, maka kepada siapa lagi keadilan itu berada?, kepada Tuhan yang mana lagi prinsip kepercayaan kita terhadap keadilan dan aqidah syar’iyyah kita mau dipertaruhkan dengan cara meragukan kekuasaanNya??. Nastaghfirullahal adziim, Naudzubillah min dzaalik.

”Jodoh serasa ringan diucap, tapi rumit dalam realita. Ungkapan seperti ini saya fikir masih saja menyisakan sebuah semangat yang rentan dengan sebutan patah semangat dan bisa berakhir ke sebuah paradigma yang merumitkan realita dalam perkara jodoh.

”Kebanyakan orang ketika berbicara soal jodoh selalu bertolak dari sebuah gambaran ideal tentang kehidupan rumah tangga. Ya, hal ini benar. Dan otomatis kita pun lalu berpikir serius tentang kriteria calon idaman. Nah, di sinilah segala sedu-sedan pembicaraan soal jodoh itu berawal. Pada mulanya, kriteria calon hanya menjadi ‘bagian masalah’, namun kemudian justru menjadi inti permasalahan itu sendiri. Di sini orang berlomba mengajukan “standardisasi” calon: wajah rupawan, berpendidikan tinggi, wawasan luas, orang tua kaya, profesi mapan, latar belakang keluarga harmonis, dan tentu saja kualitas keshalihan.

Ketika ditanya, haruskah seideal itu? Jawabnya ringan, “Apa salahnya? Ikhtiar tidak apa-apa, kan?” Memang, ada juga jawaban lain, “Saya tidak pernah menuntut. Yang penting bagi saya calon yang shalih saja.” Sayangnya, jawaban itu diucapkan ketika gurat-gurat keriput mulai menghiasi wajah. Dulu ketika masih fresh, sekadar senyum pun mahal. Tidak ada satu pun dalih, bahwa peluang jodoh lebih cepat didapatkan oleh mereka yang memiliki sifat superior (serba unggul). Memperhitungkan kriteria calon memang sesuai sunnah, namun kriteria tidak pernah menjadi penentu sulit atau mudahnya orang menikah. Pengalaman riil di lapangan kerap kali menjungkirbalikkan prasangka-prasangka seperti ini.

Jodoh, jika direnungkan, sebenarnya lebih bergantung pada tingkat kedewasaan kita. Banyak orang merintih pilu, menghiba dalam doa, memohon kemurahan Allah, sekaligus menuntut keadilan-Nya. Namun prestasi terbaik mereka hanya sebatas menuntut, tidak tampak bukti kesungguhan untuk menjemput kehidupan rumah tangga.

Mereka membayangkan kehidupan rumah tangga itu indah, bahkan lebih indah dari film-film picisan ala bintang India. Mereka tidak memandang bahwa kehidupan keluarga adalah arena perjuangan, penuh liku dan ujian, dibutuhkan nafas kesabaran yang panjang, kadang berupa kegetiran dan mampir susul-menyusul. Mereka hanya siap menjadi raja atau ratu, namun tidak pernah menyiapkan diri untuk berletih-letih dalam membina sebuah keluarga.

Kehidupan keluarga tidak berbeda dengan kehidupan individu, hanya dalam soal ujian dan beban memang kenyataanya jauh lebih berat. Di sinilan kemudian hikmah tanggungjawab berumahtangga mulai Allah SWT paparkan, namun di sisi yang lain pun Allah SWT menguji kesabaran dan keimanan kita bahwa sesungguhnya tidak ada satu pun makhluknya di muka bumi ini sekalipun hewan melata yang Allah pasti jamin rizkinya.

Jika ada seseorang yang masih single, lalu dibuai dengan penyakit malas untuk berikhtiar lebih keras lagi untuk mencari nafkah, apalagi manja dengan bantuan dari orang tua, kehidupan keluarga macam apa yang ia impikan? Kapan ia bisa mandiri? Dan kelak anak-anak dan cucu-cucu generasi penerus seperti apa yang akan datang?

Pendidikan, lingkungan, dan media informasi kadang membesarkan generasi muda kita menjadi manusia-manusia yang rapuh. Mereka sangat pakar dalam memahami sebuah gambaran kehidupan yang ideal, namun lemah nyali ketika didesak untuk meraih keidealan itu dengan pengorbanan… Sebagian pendapat ini mungkin ada benarnya, tapi tidak berati justifikasi ia lemah nyali ketika didesak untuk menikah atau mengkhitbah (melamar) seseorang maka kiranya perlu sudut pandang yang lebih arif dan bijak lagi. Misalnya, oo…sebenarnya masalahnya bukan itu, tapi lebih terhadap ternyata tuntutan keluarga besar sang pemuda masih melihat ia belum siap untuk menikah, oo..ternyata ia belum menemukan seseorang yang bisa menentramkan hatinya ketika ia melihatnya, atau ketika ia mendengar bagaimana calon isterinya berkata-kata atau bagaimana calon isterinya berpendapat mengenai soal prinsip agama atau prinsip kehidupan, oo…ternyata …dan sedikit realita yang kadang bagi sebagian orang hal tersebut remeh atau tidak sya’ri namun setelah dikaji lebih dalam ternyata alasan tersebut reasonable bahkan termasuk kategori alasan sya’ri. Misalnya, ketika ia menilai dengan karakter seorang calon isteri yang ia kenal keras, maka berdasarkan pertimbangan ia sendiri, dan nasihat dari guru ngajinya atau orang tuanya sendiri disarankan untuk tidak memilihnya karena akan terlalu sulit untuk membimbing ia ke sebuah rumah tangga yang Sakinah Mawaddah warahmah.

”Jika harus ideal, mereka menuntut orang lain yang menyediakannya. Adapun mereka cukup ongkang-ongkang kaki. Mm…pendapat ini pun kiranya perlu diluruskan bahwa akan sangat ironis dan egois sekali jika ada orang yang ingin mendapatkan pendamping yang harus ideal, pokoknya HARUS ideal. Karena jika demikian, tentu akan sangat sulit menemukannya. InsyaAllah ada orangnya, tapi langka. Dan karena itulah sebuah nasihat bagus perlu kita tanamkan dalam-dalam di hati kita bahwa kalau kita menghendaki pendamping yang ideal maka idealkan dahulu diri kita. InsyaAllah, kita pun akan dipertemukan dengan yang seideal dengan kita. Amiin.

”Kesulitan itu pada akhirnya kita ciptakan sendiri, bukan dari siapa pun. Benar!, saya sependapat dengan hal ini. ”Bagaimana mungkin Allah akan memberi nikmat jodoh, jika kita tidak pernah siap untuk itu? Siap atau tidak siap, maka bagi seorang muslim yang normal jalan fikirannya maka ia akan berkata InsyaAllah ia akan siap pada waktunya. Ia sudah pasti akan membuat agenda atau minimal target kapan ia harus mengatakan siap. Mungkin saat ini ia belum siap, tapi wallahu a’lam kalau ternyata bulan depan, minggu depan bahkan mungkin besok ternyata ia sudah sangat siap untuk menikah. Hal tersebut saya yakin ada pada setiap fikiran seorang muslim yang Allah SWT karuniai ia akal yang sehat.

“Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sekadar sesuai kesanggupannya ” (QS Al Baqarah, 286).

Di balik fenomena “telat nikah” sebenarnya ada bukti-bukti kasih sayang Allah SWT. Ketika sifat dewasa telah menjadi jiwa, jodoh itu akan datang tanpa harus ditunggu-tunggu bahkan tanpa perlu dirintihkan. Kala itu hati seseorang telah bulat utuh, siap menerima realita kehidupan rumah tangga, manis atau getirnya, dengan lapang dada. Jangan pernah lagi bertanya, mana jodohku? Namun bertanyalah, sudah dewasakah aku?

Ya, sebuah taushiah atau nasihat bagus ketika kita mulai bisa mendefinisikan apa itu dewasa?. Walaupun ternyata, saya tidak terlalu setuju jika dewasa hanya diidentikkan dengan sepotong kalimat atau pendapat seperti di atas. Kalau boleh saya berpendapat maka saya ingin mengatakan bahwa Definisi Dewasa yang sesungguhnya adalah jika seseorang mampu mengatasi setiap masalah yang ia hadapi (apapun bentuknya).

Perkara ia berhasil atau tidak dalam mengatasi masalah tersebut untuk kasus masalah yang baru terjadi maka itu tidak menjadi sebuah ukuran utama. Namun jika kemudian masalah yang serupa atau hampir serupa datang maka keberhasilan dalam mengatasi masalah tersebut menjadi sebuah ukuran utama. Oleh karena itulah kemudian ia akan dikenal sebagai “Solution Maker” atau “Problem Solver”, tempat orang-orang bertanya, berkonsultasi, atau minimal sekedar sharing tentang banyak hal. Yang jelas, dari kebiasaan bagaimana ia mengatasi masalah maka akan muncul sebuah karakter kuat untuk bagaimana ia akan selalu bersikap dewasa dalam setiap situasi dan kondisi. Dan ghalibnya, dewasa menurut saya merupakan sebuah proses bagaimana mencari dan menemukan solusi dari setiap permasalahan hidup dan proses tersebut akan terus berjalan seiring bertambahnya usia dan pengalaman hidup seseorang. Artinya, mestinya memang seseorang yang berusia di atas kita tentu lebih dewasa daripada kita. Dengan ungkapan yang lain, mestinya ia lebih mampu mengatasi masalah yang ia hadapi dibandingkan orang yang berusia lebih muda. Namun ternyata fakta membuktikan lain, faktor usia hanyalah merupakan salah satu parameter pendukung kedewasaan seseorang. Tiidak ada jaminan bahwa seseorang yang lebih muda usianya maka kadar kedewasaanya lebih rendah. Barangkali, faktor-faktor pendukung lainnya yang perlu dicermati adalah bagaimana sebenarnya karakter pribadi seseorang tersebut sejak awal, apakah ia termasuk tipe orang yang mudah menerima saran, kritik, atau pendapat orang lain yang atau tidak, apakah ia terus belajar dan memperbaiki diri atau tidak, dengan siapa sajakah ia berteman?, berapa banyak teman yang dinilai sudah dewasa, dst. Lebih spesifik mengenai sikap atau karakter seseorang yang bisa disebut dewasa menurut saya adalah ia selalu memposisikan masalah seobjektif mungkin dan menjauhkan diri dari subjektifitas, mau mengalah, tidak mudah menyerah atau berputus asa, tidak mudah mengeluh, selalu optimis dan bersemangat dalam hidup ini, mudah memaafkan kesalahan orang, tidak mudah menjustifikasi orang atas kesalahan, kekeliruan atau kekhilafannya, jujur, amanah, bertanggungjawab, ringan tangan untuk membantu sesama, ia akan menerima takdir baik maupun buruk secara proporsional, dan ia akan bersikap lebih baik daripada hari-hari sebelumnya.

Dan kembali ke soal pembahasan mengenai jodoh, ada sebuah hadist yang sangat mengena di hati untuk senantiasa kita ingat untuk lebih memotivasi dan menimbulkan efek positif buat kita yang mendambakan sebuah keluarga baru penuh rahmat dan barakah. “Bahwa sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan istrinya dan begitu pula dengan istrinya, maka Allah memperhatikan mereka dengan penuh rahmat, manakala suaminya merengkuh telapak tangan istrinya dengan mesra, berguguranlah dosa-dosa suami istri itu dari sela jemarinya” (Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi’ dari Abu Sa’id Alkhudzri r.a) “

Terinspirasi dari: Bunege R… article

Ditulis dalam Opini Lepas | 2 Komentar »

Profil Seorang Akhwat Sejati

Ditulis oleh zensudarno di/pada Juli 3, 2007

Berikut ini sekedar sharing pengetahuan saya sampai hari ini seputar Profil Seorang Akhwat Sejati . Mohon dikoreksi/ dikomentari jika ada yang salah atau keliru.

————————————————————————————————————————————-

Suatu ketika, seorang santri putra bertanya pada Ustadznya: Ya Ustadz, Ceritakan Kepadaku Tentang Akhwat Sejati…

Sang Ustadz pun tersenyum dan menjawab…Akhwat Sejati bukanlah dilihat dari sekedar jilbabnya yang lebar, tetapi dari bagaimana ia menjaga pandangan mata (ghudhul bashar), sikap, akhlak, kehormatan dan kemurnian islamnya….

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari kelembutan suaranya, tetapi dari lantangnya ia mengatakan kebenaran di hadapan laki2 bukan mahramnya…..

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari banyaknya jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya dengan anak2nya, keluarga dekatnya, para jama’ah, para tetangga dan orang2 di sekitarnya.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari bagaimana ia dihormati di tempat ia bekerja tetapi bagaimana ia dihormati di dalam rumah tangganya…

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari bagaimana ia pintar berhias dan memasak masakan yang enak2, tapi bagaimana ia bisa faham dan mengerti selera dan variasi makan suami dan anak2nya yang sebenarnya tidak rewel, pintar mengatur cash flow finansial keluarga, mengerti bagaimana berpenampilan menarik di hadapan suami dan selalu merasa cukup (qonaah) dengan segala pemberian dari sang suami di saat lapang maupun di saat sempit.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari wajahnya yang cantik, tetapi dari bagaimana ia bermurah senyum dan sejuk jika dilihat di hadapan suaminya dengan sepenuh hati tanpa dibuat2/dipaksakan.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari banyaknya ikhwan yang mencoba berta’aruf kepadanya, tetapi dari komitmennya untuk mengatakan bahwa sesungguhnya “Tidak ada kata “CINTA sebelum menikah.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari gelar sabuk hitam dalam olahraga beladirinya, tetapi dari sabarnya ia menghadapi lika-liku kehidupan…

 

Akhwat Sejati bukanlah dilihat dari sekedar banyaknya ia menghafal Al-Quran, tetapi dari pemahaman ia atas apa yang ia baca/hafal untuk kemudian ia amalkan dalam kehidupan sehari2.

….setelah itu, Si Murid kembali bertanya…

“Adakah Akhwat yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, Ya Ustadz ?”

Sang Ustadz kembali tersenyum dan berkata: “Akhwat seperti itu ada, tapi langka.

Sekalipun ada, biasanya ia memiliki karakter khas antara lain; Sangat mencintai Allah dan RasulNya melebihi apapun, tidak lepas dari dunia da’wah (minimal di lingkungan sekitar tempat tinggalnya), hidup berjamaah tapi tidak dikenal ‘ashobiyah, tidak ingin dikenal-kecuali diminta/didesak oleh jama’ah (masyarakat), dari keturunan orang2 yang shalih/shalihat, berasal dari lingkungan yang sangat terpelihara, punya amalan ibadah harian, mingguan dan bulanan di atas rata2 orang kebanyakan, hidupnya sederhana namun tetap menarik dan bermanfaat buat orang lain, dikenal sebagai tetangga yang baik hati, sangat berbakti terhadap orang tua, sangat hormat kepada yang lebih tua dan sangat sayang terhadap yang lebih muda, sangat disiplin dengan sholat fardunya, rajin shaum sunnah dan qiyamullail & atau bisa jadi amalan ibadah terbaiknya disembunyikan dari mata orang2 yang mengenalnya, rajin memperbaiki istighfarnya (taubatan nashuha), rajin mendoakan saudara2nya terutama yang sedang dalam keadaan kesulitan atau sedang terdzolimi secara terang2an/tersembunyi, rajin bersilaturahim, rajin menuntut ilmu-mengaji- (terutama yang syar’i)/minimal rajin hadir di majlis ilmu dan mendengarkannya, senantiasa menambah/memperbaiki ilmunya dan menyampaikan semua ilmu yang ia ketahui setelah terlebih dahulu ia mengamalkannya, rajin membaca/menghafal alqur’an atau hadits dan buku2 yang bermanfaat, pintar/kuat hafalannya, sangat selektif soal makanan/minuman yang ia konsumsi, sangat perhatian terhadap kebersihan dan sangat disiplin sekali soal thaharah, sangat terjaga dari soal2 ikhtilat apalagi berkhalwat, jauh dari gosip-menggosip, lisan dan semua perbuatannya senantiasa terjaga dari hal2 yang sia2, zuhud, istiqomah, tegar, tidak takut/bersedih hati hingga berlarut2 melainkan sebentar (wajar), pandai menghibur dan pandai menutupi aib/kekurangan dirinya dan orang2 yang ia kenal, mudah memaafkan kesalahan/kekeliruan orang lain tanpa diminta dan tanpa dendam, ringan tangan untuk membantu sesama, mudah berinfak (bershadaqah), ikhlas, jauh dari riya, ujub, muhabahat, takabur dan tidak emosional, cukup sensitif tapi tidak terlalu sensitif (tidak mudah tersinggung), selalu berbuat ihsan dan muraqobatullah (selalu merasa dekat dan selalu merasa diawasi oleh Allah SWT baik di saat ramai maupun di saat sendirian), selalu berhusnudzon kepada setiap orang, benar2 berkarakter jujur (shiddiiq), amanah dan selalu menyampaikan yang haq dengan caranya yang terbaik (tabligh), pantang mengeluh/berkeluh kesah, sangat dewasa dalam menyikapi problematika kehidupan, mandiri, selalu optimis, terlihat selalu gembira dan menentramkan, hari2nya tidak lepas dari perhitungan (muhasabah) bahwa hari ini selalu ia usahakan lebih baik daripada kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini, dan senantiasa pandai bersyukur atas segala ni’mat (takdir baik) serta senantiasa sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan (takdir buruk) dalam segala keadaan. Kapan pun dan di manapun..

Si Murid rupa2nya masih penasaran, dan bertanya kembali kepada Sang Ustadz. “Ya Ustadz, adakah cara yang paling mudah untuk mendapatkannya? atau minimal bisa mendapatkan seorang Akhwat yang mendekati profil Akhwat Sejati??

Sang Ustadz pun dengan bijak segera menjawabnya: “Ada, jika antum ingin mendapatkan Akhwat Sejati nan benar2 Shalihat sebagai teman hidup maka SHALIHKAN DAHULU DIRI ANTUM…!! karena InsyaAllah Akhwat yang shalihat adalah pada dasarnya juga untuk Ikhwan yang shaalih…

Amiin, Wallahu a’lam bishawab.

Ditulis dalam Opini Lepas | 6 Komentar »

17 Rahasia di Balik Kebahagiaan

Ditulis oleh zensudarno di/pada Juni 4, 2007

Jika kita berbicara tentang KEBAHAGIAAN maka tentu akan bermakna variatif dan relatif, tergantung dari sudut pandang seseorang melihatnya. Berbeda sumber, latar belakang dan pengetahuan seseorang maka sudah barang tentu akan berbeda pula ketika ia mendefinisikan dan atau memaknai bagaimana sebenarnya hakikat kebahagiaan tersebut.  Untuk sekedar berbagi tentang sumber, latar belakang dan pengetahuan saya seputar bagaiman kebahagiaan tersebut bisa diraih, berikut ini saya paparkan sebanyak 17 item rahasia di balik kebahagiaan:

1. Menerima dan bersyukur atas segala ketentuan dari Allah SWT baik senang atau susah, lapang atau sempit, kaya atau miskin, sehat atau sakit, baik atau buruk dengan tetap berikhtiar, berdoa, ikhlas, sabar dan tawakal.

2. Telah menikah; a. Dengan pasangan yang shalih/shalihat, b. Punya kendaraan, c. Punya rumah yang representatif, d. Punya tetangga rumah yang baik hati dan atau berada di lingkungan yang islami dan kondusif, e. Tempat ma’isyah/mencari nafkah keluarga tidak terlalu jauh dari rumah.

3. Punya orang tua dan keluarga dekat yang hanif, sangat sayang, perhatian, dan pengertian.

4. Dapat menjalankan sholat 5 waktu tepat pada waktunya (berjamaah).

5. Punya hobi, waktu luang dan aktivitas sosial yang menyenangkan.

6. Bagaimana membuat orang lain bisa bahagia.

7. Bagaimana sebenarnya perhatian kita terhadap kebaikan yang ada dalam diri orang lain. Dan bila diibaratkan maka hidup ini bagaikan lukisan. Untuk melihat keindahan lukisan yang terbaik sampai mendetail adalah lihatlah lukisan tersebut di bawah sinar yang terang. Bukan melihatnya di tempat yang tertutup dan gelap.

8. Selalu berani menghadapi kesulitan jika ia datang dan tidak malah kemudian lari atau menghindar. Karena sesungguhnya kesulitan itu ada adalah untuk dihadapi dan bagaimana cara menyelesaikannya.

9. Semakin banyak kita berlatih dan berhasil menyelesaikan masalah sendiri tanpa menjadi beban buat orang lain.

10. Dapat memberikan manfaat yang sebanyak-banyaknya buat orang lain dengan ikhlas tanpa berharap sesuatu pun. Air yang mengalir dengan bebas selalu lebih segar dan jernih daripada air yang diam dan tidak mengalir.

11. Selalu bisa belajar dari orang lain. Semakin Anda menunjukkan seberapa banyak Anda tahu maka sesungguhnya semakin mudah bagi orang lain untuk menemukan kekurangan Anda. Namun semakin anda menyampaikan sesuatu yang Anda tahu kemudian diiringi dengan membuat Anda lebih banyak tahu daripada sebelumnya maka beruntunglah Anda. Karena sesungguhnya, ilmu itu tidak terbatas.

12. Memandang dan memperlakukan orang lain seperti diri Anda dan keluarga besar Anda. Karena sesungguhnya setiap ciptaan Allah SWT adalah pasti bermanfaat dan ia ada karena kehendak-Nya semata.

13. Dapat tersenyum dan tertawa bersama orang lain sebagai sahabat dan bukan tersenyum sinis atau menertawakan mereka sebagai hakim.

14. Tidak sombong. Bila Anda rendah hati dan menganggap mereka penting maka Anda akan di terima sebagai sahabat di manapun Anda berada.

15. Menerima orang lain apa adanya dan sebagaimana yang ia inginkan tanpa masalah. Kemudian sadar dan menerima segala perbedaan yang pasti akan ada. Betapa akan membosankan hidup ini jika setiap orang sama. Bukankah taman pun akan tampak janggal bila semua bunga yang tumbuh adalah sama dengan warna bunga yang sama pula?

16. Menjaga agar hati Anda terbuka bagi orang lain kemudian dapat saling berbagi pengalaman hidup dan saling nasihat-menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

17. Memahami bahwa persahabatan jauh lebih berharga daripada nilai dari sebuah barang atau apapun bentuknya; lebih berharga daripada kita mengurusi urusan kita sendiri padahal pada saat yang sama ada sahabat kita yang sangat membutuhkan bantuan kita; lebih berharga daripada bersikukuh pada kebenaran subjektif dalam perkara yang tidak prinsipil, padahal ada kebenaran objektif dalam diri orang lain..

Ditulis dalam Opini Lepas | Leave a Comment »

Taushiah 01

Ditulis oleh zensudarno di/pada Juni 4, 2007

Muqaddimah taushiah kali ini diawali dengan sebuah kalimat yang indah sekalaigus mengingatkan kita bahwa sesungguhnya dunia ini hanyalah sekedar persinggahan sementara. Namun demikian, di dunia inilah tempat kita mengandalkan amalan baik kita agar benar-benar optimal lagi berkualitas dan Allah SWT pun berkenan menerimanya. Kemudian kita berfikir, apa benar selama ini kita telah berusaha memanfaatkan waktu kita dan membuatnya benar-benar optimal lagi berkualitas?, sedangkan waktu yang kita lalui sehari-hari lebih banyak diperuntukkan untuk kesibukan dunia an sich, urusan waktu untuk amalan bernilai akhirat atau dunia akhirat hanya sekedar sesempatnya, atau bahkan sebenarnya waktu kita lebih banyak terbuang dengan sia-sia?? Wallahu a’lam…

Lantas, jika realitas kehidupan kita untuk hal tersebut masih perlu dipertanyakan kembali maka apakah layak jika kita kemudian mengklaim bahwa hidup kita sudah merasa sukses, tenang dan tentram seolah-olah tanpa rasa bersalah dan berpola tingkah seperti kandidat ahli syurga? Wal hal karakter para kandidat ahli syurga pun ternyata sangat jauh dari ungkapan kata “merasa.

Merasa dengan segala turunan dan variannya tetap saja secara umum akan berarti bahwa sebenarnya arti hidup kita di dunia ini hanya sekedar merasa. Dan hanya orang-orang yang memiliki sifat sombong atau takabur saja penyakit jiwa tersebut hinggap dan kemudian menggerogoti setiap amal kebaikannya hingga tidak bersisa. Dan pada akhirnya, boleh jadi ia atau mereka akan tetap menjadi tipe manusia dengan predikat “Sang Merasa. Ia hidup tapi pada hakikatnya ia mati dan/ orang-orang telah menganggapnya ada tapi tiada. Sementara bagi orang-orang yang dahulu mengenalnya dengan baik justru kemudian berusaha untuk tidak berhubungan dengannya bahkan berusaha melupakannya (selama-lamanya…). Setragis itukah?..Ya, itulah sementara cermin kehidupan masyarakat kita dengan hukum tidak tertulisnya tanpa mengenal waktu dan tempat. Wallahu a’lam bi shawab..

Ditulis dalam Opini Lepas | Leave a Comment »