Zen Diary

Seputar Obrolan Ringan, Pengalaman Hidup dan Mutiara Ilmu

Arsip untuk Juni, 2007

Just a Sample of Nice Diary

Ditulis oleh zensudarno di/pada Juni 13, 2007

from : Hamba Allah yang tidak ingin dikenal..
to : Seluruh Calon Suami dan Seluruh Calon Isteri yang baik hati

message:

“1. Semoga kita bisa sefaham dan lebih sabar dalam segala hal…”

2. Sebelum dibaca; antara sesama calon pasangan dilarang tersinggung, timbul fitnah, su’udzon atau sekedar timbul sesuatu yang mengganjal di dalam hati karena ini Just a Sample of Nice Diary from Internet-Dunia maya-and everything just very good ideas :)

3. Semoga kita mendapatkan hikmah dan mutiara ilmu semahal dan sedalam makna yang tiada ternilai ini.

—————————————————————————————————————————

Assalamu’alaikum Wr. Wb….

Apa kabar calon suamiku? Bagaimana keadaanmu sekarang ini? Aku berharap di manapun kau berada, kebahagiaan serta rahmatNya selalu menyertaimu.

Calon suamiku, …

Di mana Engkau sekarang? Aku selalu setia menantimu, pun saat usiaku menjelang ………………………tahun. Setiap usai shalat aku berharap pada Yang Kuasa untuk mengakhiri penantianku ini. Setiap malam, aku selalu menanti pagi, akankah engkau segera datang menjumpai. Mengajakku meniti jalan ilahi untuk mengayuh hidup menguatkan tekad untuk terus menjalankan titahNya juga Sunnah RasulNya.

Wahai calon suamiku, …

Apa yang memberatkan langkahmu untuk menjumpaiku? Apa yang sedang kau lakukan sekarang ini? Mencari rupiah demi rupiah sebagai ongkos agar kita dapat mengayuh bahtera itu bersama? Berapa besar ongkos itu? Berapa jumlah rupiah yang akan engkau cari? Bahtera seperti apa yang ingin kau tumpangi? Ekonomi, standar, atau eksekutif? Tak soal buatku, bahtera apa yang akan kita kayuh, toh yang penting untukku kita akan menjalani semua itu dengan keikhlasan yang amat sangat. Tak perlu risaukan berapa rupiah yang kau miliki saat ini. Berapapun jumlahnya, aku selalu akan menerimamu. Asal rupiah yang kau dapatkan bukan dari jalan tak kau ketahui dari mana asalnya.

Wahai calon suamiku, …

Apa yang sedang kau lakukan hingga kau menunda untuk bertemu dengan ku? Apakah ada amanah lain yang harus kau tunaikan? Seberat apa amanah itu? Aku ingin mendampingimu. Menemanimu menunaikan amanah itu bersama-sama.

Calon suamiku yang selalu ku nanti,…

Di mana kau sekarang? Apa yang kau lakukan saat ini? Aku selalu memudahkan langkahmu untuk mencapai cita-cita dan asa yang kau inginkan. Allah punya rencana untuk menunda mempertemukan kita sekarang ini karena Ia sedang mempersiapkan kita untuk mengusung amanah yang jauh lebih berat. Ia ingin kita lebih matang merenda hari esok seperti yang kita harapkan nantinya.

Calon suamiku,…

Siapapun yang Allah berikan untuk mendampingi hidupku, Aku akan selalu menantimu. Aku percaya Allah Yang Terkasih punya rencana yang terbaik untuk menyusun rencana hidupku juga hidupmu.

Calon suamiku,…

Kapan engkau datang? Aku akan tetap setia menantimu.

Dari ku yang merindukanmu
sebuah catatan menjelang usia ke-…..

——————————————————————————————————————————–

Ditulis dalam Nice Diary | Leave a Comment »

17 Rahasia di Balik Kebahagiaan

Ditulis oleh zensudarno di/pada Juni 4, 2007

Jika kita berbicara tentang KEBAHAGIAAN maka tentu akan bermakna variatif dan relatif, tergantung dari sudut pandang seseorang melihatnya. Berbeda sumber, latar belakang dan pengetahuan seseorang maka sudah barang tentu akan berbeda pula ketika ia mendefinisikan dan atau memaknai bagaimana sebenarnya hakikat kebahagiaan tersebut.  Untuk sekedar berbagi tentang sumber, latar belakang dan pengetahuan saya seputar bagaiman kebahagiaan tersebut bisa diraih, berikut ini saya paparkan sebanyak 17 item rahasia di balik kebahagiaan:

1. Menerima dan bersyukur atas segala ketentuan dari Allah SWT baik senang atau susah, lapang atau sempit, kaya atau miskin, sehat atau sakit, baik atau buruk dengan tetap berikhtiar, berdoa, ikhlas, sabar dan tawakal.

2. Telah menikah; a. Dengan pasangan yang shalih/shalihat, b. Punya kendaraan, c. Punya rumah yang representatif, d. Punya tetangga rumah yang baik hati dan atau berada di lingkungan yang islami dan kondusif, e. Tempat ma’isyah/mencari nafkah keluarga tidak terlalu jauh dari rumah.

3. Punya orang tua dan keluarga dekat yang hanif, sangat sayang, perhatian, dan pengertian.

4. Dapat menjalankan sholat 5 waktu tepat pada waktunya (berjamaah).

5. Punya hobi, waktu luang dan aktivitas sosial yang menyenangkan.

6. Bagaimana membuat orang lain bisa bahagia.

7. Bagaimana sebenarnya perhatian kita terhadap kebaikan yang ada dalam diri orang lain. Dan bila diibaratkan maka hidup ini bagaikan lukisan. Untuk melihat keindahan lukisan yang terbaik sampai mendetail adalah lihatlah lukisan tersebut di bawah sinar yang terang. Bukan melihatnya di tempat yang tertutup dan gelap.

8. Selalu berani menghadapi kesulitan jika ia datang dan tidak malah kemudian lari atau menghindar. Karena sesungguhnya kesulitan itu ada adalah untuk dihadapi dan bagaimana cara menyelesaikannya.

9. Semakin banyak kita berlatih dan berhasil menyelesaikan masalah sendiri tanpa menjadi beban buat orang lain.

10. Dapat memberikan manfaat yang sebanyak-banyaknya buat orang lain dengan ikhlas tanpa berharap sesuatu pun. Air yang mengalir dengan bebas selalu lebih segar dan jernih daripada air yang diam dan tidak mengalir.

11. Selalu bisa belajar dari orang lain. Semakin Anda menunjukkan seberapa banyak Anda tahu maka sesungguhnya semakin mudah bagi orang lain untuk menemukan kekurangan Anda. Namun semakin anda menyampaikan sesuatu yang Anda tahu kemudian diiringi dengan membuat Anda lebih banyak tahu daripada sebelumnya maka beruntunglah Anda. Karena sesungguhnya, ilmu itu tidak terbatas.

12. Memandang dan memperlakukan orang lain seperti diri Anda dan keluarga besar Anda. Karena sesungguhnya setiap ciptaan Allah SWT adalah pasti bermanfaat dan ia ada karena kehendak-Nya semata.

13. Dapat tersenyum dan tertawa bersama orang lain sebagai sahabat dan bukan tersenyum sinis atau menertawakan mereka sebagai hakim.

14. Tidak sombong. Bila Anda rendah hati dan menganggap mereka penting maka Anda akan di terima sebagai sahabat di manapun Anda berada.

15. Menerima orang lain apa adanya dan sebagaimana yang ia inginkan tanpa masalah. Kemudian sadar dan menerima segala perbedaan yang pasti akan ada. Betapa akan membosankan hidup ini jika setiap orang sama. Bukankah taman pun akan tampak janggal bila semua bunga yang tumbuh adalah sama dengan warna bunga yang sama pula?

16. Menjaga agar hati Anda terbuka bagi orang lain kemudian dapat saling berbagi pengalaman hidup dan saling nasihat-menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

17. Memahami bahwa persahabatan jauh lebih berharga daripada nilai dari sebuah barang atau apapun bentuknya; lebih berharga daripada kita mengurusi urusan kita sendiri padahal pada saat yang sama ada sahabat kita yang sangat membutuhkan bantuan kita; lebih berharga daripada bersikukuh pada kebenaran subjektif dalam perkara yang tidak prinsipil, padahal ada kebenaran objektif dalam diri orang lain..

Ditulis dalam Opini Lepas | Leave a Comment »

Who is My Name?

Ditulis oleh zensudarno di/pada Juni 4, 2007

I would like to say to all my friends about who is my name (exactly). Because, especially my name sometimes make “problems but I think my name is special, specially and unique to all the people in my community which different background. My name exactly just is JAENUDIN. Sedangkan nama saya sesuai KTP asal daerah saya adalah: JAENUDIN B. SUDARNO/ JAENUDIN BN SUDARNO/ JAENUDIN BIN SUDARNO. Namun demikian, Alm. Pak Kyai saya dan hampir semua ustadz serta teman2 rohis dan di DKM/LDK yang mengenal saya dengan baik (dulu maupun sekarang) ternyata seolah2 sepakat bahwa nama saya yang benar menurut mereka adalah ZAINUDDIN, bahkan ada yang seolah2 setengah memaksa; namanya diganti saja (Loh?!). Lucunya, Ayah saya juga ternyata tahu betul (sebelum saya lahir) bahwa nama saya yang benar adalah ZAINUDDIN. Pada suatu waktu, saya pernah bertanya: Kenapa nama yang benar kok tidak dipakai? Kata Ayah, nama ZAINUDDIN terlalu gagah (benarkah?) dan Ayah ingin nama saya diadaptasikan antara nama kearab-araban dengan ciri khas JAWA. The meaning of the name Zain is Handsome. Tapi Arti makna ZAINUDDIN secara umum adalah Perhiasan (kebagusan) dalam Agama, asal kata Zain yang artinya bagus, indah, tampan atau cantik dan kata Ad Diin yang berarti Agama. Dengan demikian JAENUDIN kurang lebih memiliki makna atau arti seorang laki-laki yang insyaAllah diharapkan akan menghiasi / membaguskan Agama (Islam), berasal dari suku Jawa, kemudian bisa menghangatkan (asal kata JAHE dan karena kebetulan lahir di hari JUM’AT) dan menambah suasana agama Islam ini lebih berwarna. :) Amiin.. (?) Demikian sedikit cerita dan maksud pemberian nama JAENUDIN dari ayah saya tercinta…. Namun ternyata beliau masih penasaran juga terhadap saya-karena beliau berfikir: jangan2 saya tidak menerima pemberian nama tersebut- maka suatu waktu pernah beliau bertanya kepada saya, apakah kalau saya Naik Haji nanti kemudian nama saya akan diubah menjadi ZAINUDDIN?**no comment……..

Dan ternyata, cerita tentang nama saya tersebut kemudian memang terus bergulir sejak saya aktif berorganisasi di sekolah ataupun di kampus. Setiap surat-surat/ proposal bertanda tangan atas nama saya selalu tertulis nama ZAINUDDIN. Kalau tidak; ZAINUDIN, ZAENUDIN atau ZAENUDDIN. Waktu itu, saya sudah sempat berkali-kali untuk mengklarifikasinya bahwa nama saya yang sebenarnya adalah JAENUDIN tapi sayang klarifikasi saya tersebut tidak didengar atau lebih tepatnya tidak diterima. Wallahu a’lam…Sampai akhirnya, ya sudah.. terserah deh…(dalam hati Ok juga sih-karena memang seharusnya demikian, pelan2 saya mulai beradaptasi dan berusaha memahami mereka dan saya merasa tidak berkeberatan sama sekali, bahkan ternyata secara diem-diem ternyata saya lebih suka dengan nama ZAINUDDIN). Cerita selanjutnya setelah kejadian tersebut adalah jujur setiap pertama kali saya diminta mengenalkan diri dengan orang-orang yang saya anggap alim, hanif, dan saya hormati maka saya lebih memilih untuk menyebutkan nama saya dengan nama ZAINUDDIN. Dan biasanya pun kemudian beliau/mereka akan bilang OOh, ZAINUDDIN MZ..?:). Nggak pake MZ. Sedangkan cerita berkaitan dengan panggilan nama saya oleh sebagian anggota keluarga, saudara dan teman2 di sekolah/kampus serta para tetangga dengan background atau latar belakang yang berbeda maka ternyata kemudian mereka (masing2) memanggil nama saya dengan panggilan dan sebutan khusus yang saya fikir cukup ribet, antik, unik, relative bervariasi dan kadang ada yang terdengar aneh di telinga.

Misalnya berikut ini saya sebutkan secara keseluruhan nama panggilan saya yang dikenal secara tertulis maupun secara lisan dari nama asli JAENUDIN kemudian berubah menjadi: ZAINUDDIN, ZAINUDIN, ZAENUDDIN, ZEINUDDIN, ZAENUDIN, JAENUDIN B. SUDARNO, JAENUDIN BN SUDARNO, JAENUDIN BIN SUDARNO, JAENUDIN SUDARNO, JAINUDIN, JAINUDDIN, JAENUDDIN, JAEN, JEN, JAE, JAI, JAY, JEI, ZAI, ZAID, ZAY, ZEI, ZEIN, ZEY, ZAE, ZAED, ZAEN, ZEN, ZEN SUDARNO, JAENUD, JENUD, ZAENUD, ZAINUD, DIN, UDIN, ENJE’N, SEJE’ (?), …..GAJAH-GAJAH (?), ….Sedangkan sebutan/tambahan nama lainnya yang melengkapi nama-nama tersebut adalah: Pak, Mas, Kang, Akhi, Akh, Bang, Amang Boru, Kaka, AA, Uda, De’, Lik, Om, Ust., Tad (Ustadz), Pak Ust., Kyai, Pak Kyai, Pak Haji, Boss, Si Boss, Den,………

Dan sebenarnya, ada hal yang aneh dan saya fikir cukup ganjil ketika membahas lebih spesifik tentang nama saya tersebut. Sebab, seingat saya terutama sejak SMP hingga sekarang………..ternyata jarang orang2 yang memanggil nama saya secara langsung tanpa menyebutkan sebutan/tambahan nama sebelum nama saya, kecuali hanya sebagian kecil di antara mereka. Artinya, ada saja sebutan/tambahan nama seperti nama-nama tersebut padahal secara umum dari mereka TIDAK ADA HUBUNGAN yang mengharuskan mereka menambahkan sebutan sebelum nama saya. Ya, terasa terdengar aneh saja ketika misalnya ada teman seangkatan (seumur) yang memanggil nama saya dengan sebutan Kakak/Mas/Uda/Bang/Kang/AA, lebih-lebih mereka yang berusia di atas saya. Sementara untuk penggunaan panggilan “Pak”, sekalipun awalnya terdengar aneh juga tapi kemudian saya merasa terbiasa dengan sebutan tersebut ketika saya dulu berteman dengan teman-teman senior LDK/DKM di kampus dan teman2 dari Organisasi MENWA (Resimen Mahasiswa)-dan di sana menerapkan sebuah kebiasaaan/tradisi yang khas kala itu dalam memanggil nama di antara mereka dengan panggilan PAK..atau IBU buat para akhwatnya… Kemudian menyusul teman-teman kost saya dulu di Bogor yang akhirnya sebagian lebih akrab dengan panggilan tersebut. Begitulah…

Satu hal mengenai KETETAPAN SIKAP saya sampai hari ini adalah nama saya tetap JAENUDIN namun secara umum dan non formal, untuk sebutan/pencantuman nama saya maka sekali lagi jujur… saya lebih suka dengan nama ZAINUDDIN atau cukup dengan nama ZEN/ZAI/ ZAE/ ZEI.. **Dengan pelafalan persis sesuai dengan Makhorijul Huruf atau ejaan yang tepat dan benar. Sekalipun demikian, InsyaAllah pada dasarnya saya tidak pernah mempersoalkan bagaimana orang2 menyebutkan atau memanggil nama saya-misalnya lafal Z kembali menjadi J or whatever.. Saya menerima penyebutan/panggilan nama saya dengan apapun dan dari siapapun mereka selama masih dalam batas2 itu memang nama turunan dari nama saya yang sebenarnya. Saya berfikir itu tidak menjadi masalah dan mungkin malah menjadi variasi, keunikan, kekayaan dan ciri khas tersendiri.

Masalahnya adalah akan ada sedikit miss call, miss communication atau kerepotan buat saya ketika di antara teman2 pada suatu saat akan menemui atau mendengar keganjilan tentang penyebutan nama saya oleh beberapa orang atau kelompok orang yang berbeda yang terjadi pada waktu bersamaan.

Secara kebetulan kadang hal itu memang terjadi, misalnya jika suatu saat saya bertemu dengan teman-teman saya di suatu tempat dalam waktu bersamaan atau ada teman yang menelefon ke rumah dan akhirnya yang muncul adalah kejadian lucu, agak salah faham dan saat itu pula sayalah yang harus menjelaskan semua secara singkat. Oh..! itu panggilan keluarga dan kerabat dekat saya, Ooh..itu panggilan teman2 kuliah saya, itu panggilan teman2 kuliah saya asal Padang, itu panggilan teman2 kuliah saya asal Semarang, Magelang dan Klaten, itu panggilan saya di kantor dulu, itu panggilan di kantor saya sekarang, itu panggilan murid2 ngaji saya dan para orang tua mereka, itu panggilan tetangga dan masyarakat di sebuah kompleks perumahan di sana, itu panggilan teman2 ngaji saya, itu panggilan adik sepupu saya yang di sana, itu panggilan kakak ipar saya, itu panggilan Alm. Nenek saya, itu panggilan Alm. sahabat saya, itu panggilan Ustadz/Pak Kyai saya, itu panggilan teman2 SMP dan sebagian Guru, itu panggilan teman2 SMA dan sebagian Guru, itu Panggilan (Ibu Guru “W”..) Wali Kelas SMA saya, itu panggilan (Pak Guru) Kepala Sekolah SMA dan Kepala Sekolah SD, itu panggilan teman2 senior DKM/LDK, teman2 Menwa dan teman2 kost saya dulu di Bogor, itu panggilan saya waktu TK gara2 menyanyikan lagu GAJAH2 (dan lagu Lir-ilir) di depan Pak Camat dan masyarakat luas, dst.

Bagi saya, hal tersebut tetaplah menjadi hal yang sangat lumrah dan merupakan sebuah kenangan tersendiri sekaligus menunjukkan bahwa ternyata pemahaman istilah/bahasa dan penyebutan nama yang berasal dari daerah arab (atau yang berkesan lebih islami) dan atau dari luar daerah sekalipun pada umumnya akan menuai banyak miss call, even miss understood dan kadang relatif rentan terhadap interpretasi/penafsiran dari orang lain. Salah satu interpretasi terburuknya adalah bisa jadi saya akan dinilai tidak konsisten”. Padahal maksud saya yang sebenarnya adalah saya ingin bersikap lebih fleksibel, mencoba memahami dan menerima penyebutan nama saya tersebut dengan nuansa lebih santai, lebih dekat dan tanpa masalah. Tidak perlu saya harus menjelaskan nama saya secara panjang lebar seperti halnya di blog ini…misalnya…, tidak perlu saya menyebutkan nama panggilan saya satu per satu karena tentu akan membuat saya repot untuk sekedar mengejanya setiap huruf dan bahkan mungkin setiap saat, ataukah sebaliknya saya harus memaksakan kehendak saya, atau ingin minta orang lain lebih menghargai saya (?). TIDAK. Namun demikian, selama itu memang bukan menjadi sebuah masalah krusial dan masih bisa diatasi maka saya fikir tidak perlu dipermasalahkan. Toh akhirnya, semua kembali kepada pemahaman masing2 dan menjadi kebebasan atau hak bagi para orang tua untuk memberikan nama yang terbaik buat putra-putri mereka. Dan pada hakikatnya, kita pun sebagai anak berhak pula mendapatkan nama yang terbaik dan membuat kita bisa lebih nyaman, confident dan mungkin lebih berani memandang dunia ini lebih luas. Karena ternyata gara2 sebuah nama, ada saja orangnya (bahkan mungkin banyak) yang malu menggunakannya ketika dia (mereka) tampil secara formal di depan publik sebagai seorang figur atau masih ada saja cerita yang tidak masuk di akal ketika nama seseorang itu harus diganti karena dia sering sakit-sakitan. :(

Penyebutan nama yang terbaik menurut saya adalah nama yang paling kita sukai dan paling dia (mereka) sukai serta tidak ada orang lain yang merasa berkeberatan dengan nama tersebut. Wallahu a’lam,………..

Anehnya, betapa istimewanya nama terindah sekaligus terbaik seperti nama Nabi Besar MUHAMMAD SAW pun ternyata tetap ditulis keliru oleh kebanyakan orang dengan huruf Ha..padahal kita punya huruf Kha….dengan ejaan yang benar (???) atau bahkan ternyata banyak juga yang maksudnya meniru nama beliau dengan benar tapi kemudian menuliskannya secara keliru, misalnya: MUHAMAD, MUHAMMED, MOHAMAD, MOHAMMAD, MOHAMED, MOHAMMED, M., MUH., MOH,…dst. Tapi SUBHANALLAH.. keistimewaan nama beliau benar2 terbukti ketika nama beliau yang keliru tersebut dituliskan dalam bahasa arab TERNYATA SAMA!. All the people (moslems) on the world… semua menuliskannya SAMA. Bahkan ketika dilafalkan/diucapkan pun TERNYATA SAMA. Apalagi diucapkkan oleh orang2 dengan kadar kefasihan yang tinggi disertai mahabbah terhadap beliau yang sangat mendalam dengan tingkat kerinduan untuk bertemu beliau, maka sekali lagi SUBHANALLAH… SEMUA SAMA. ALLAHU AKBAR!!, Laa Haula Walaa Quwwata Illaa Billaahil ‘Aliyyil ‘Adziim..

Dan sesuai dengan kaidah dan pesan Rasulullah SAW secara umum yang tersirat seperti pada penggunaan nama beliau yang lain (Abul Qasim) maka kemudian nama MUHAMMAD pun jika kita mau menggunakannya perlu ditambahkan dengan nama lain agar tidak menyerupai nama asli beliau. Sebagaimana tradisi bangsa arab pada umumnya yang selalu menambahkan di belakang nama mereka dengan nama marga atau silsilah nama ayah, kakek dst.

Wallahu A’lam bishawab..

Jika Shakespear pernah berkata…”Apalah artinya Sebuah Nama?”, saya ingin mengatakan saya sangat tidak setuju akan pendapat tersebut. Tapi kalaulah kemudian ada faham bahwa ternyata nama sangat berpengaruh terhadap kepribadian seseorang, karakter, kehormatan, pengertian, toleransi dan status sosial lainnya maka saya ingin berkata: itu benar. Paling tidak, itu adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhinya. Sebab, InsyaAllah pada umumnya nama yang baik akan membawa seseorang untuk berperilaku baik pula. Namun demikian, jika kita mendengar, mengetahui atau mengenal ada orang-orang dengan nama-nama yang baik, indah, bahkan berkesan islami dan ternyata adalah para penjahat atau para pelaku tindak kriminal maka saya lebih melihat hal tersebut merupakan contoh kasus bersifat parsial dan InsyaAllah jumlahnya lebih sedikit daripada contoh dengan nama-nama yang baik, indah, bahkan berkesan islami baik. Secara lebih spesifik pun kalau kita mau memperhatikan perbedaan tersebut maka biasanya mereka akan merasa lebih bangga dengan laqob-laqob, gelar, sebutan atau julukan-julukan yang kemudian ternyata sangat jauh dari nama aslinya. Tidak perlu kiranya saya sebutkan contoh apa saja nama-nama tersebut, karena tentu kita sudah pasti bisa menebaknya. Tidak peduli mereka akan mengatakan sebutan atas nama mereka lebih gaul, lebih keren, lebih modern, lebih kayak orang kota, ga Ndeso! (kampungan), lebih membanggakan atau lebih ditakuti orang lain yang kemudian kita mengenalnya dengan “Nama Asli Si Fulan alias Fulanxxxxx. Bahkan, tidak sedikit nama alias tersebut lebih dari satu. Orang Betawi bilang: “berendeng”..huruf e pertama diucapkan seperti e pada kata “kesal”, sedangkan ‘e ke-2 dan ‘e k-3 diucapkan seperti e pada kata “sate”… :) Yang jelas, bukan pula saya ingin mengatakan atau membentuk opini publik bahwa mulai sekarang kalau ada yang menyebutkan nama saya selain ZAINUDDIN maka berarti dia (mereka) tidak menghormati saya- karena sesungguhnya maksud saya bukan seperti itu dan sesungguhnya tulisan ini hanya sekedar sebuah wacana/bahan tulisan buat meramaikan fitur in my blog. Adapun mengenai sebagian komunitas atau sebagian orang-orang yang saya kenal kemudian memanggil nama saya dengan sebutan Ustadz maka saya lebih berfikir itu hanya guyon (bercanda) dan sifatnya temporal. Sedangkan bagi sebagian komunitas yang lain dan mereka konsisten dengan panggilan Ustadz maka saya lebih berfikir mungkin.. hal tersebut karena mereka adalah anak2 musholla yang secara kebetulan pernah saya bimbing/saya ajari ngaji dan baca Al Qur’an, para orang tua mereka atau ibu dan bapak jamaah musholla tsb. Tapi sesungguhnya buat komunitas selain mereka, saya selalu bilang: “Mohon tidak usah panggil saya Ustadz!. Kenapa? karena saya masih merasa terlalu banyak kekurangan. Standar keilmuan saya masih belum ada apa-apanya dibandingkan profil seorang ustadz yang ada di benak saya (bagaimana seharusnya saya memperhatikan dan menguasai secara penuh dan lebih serius tentang praktik dan pemahaman bahasa arab, Al Qur’an, Al Hadits, tafsir, kitab2 karangan para ulama dll.), saya bukan alumni dari sebuah ma’had/pondok pesantren tertentu, saya belum memiliki murid/mutarobbi dan binaan dalam jumlah dan kualitas yang realtif sebanding dengan murid2 ustadz2 saya pada umumnya, saya belum bisa concern dan istoqomah secara syamil terhadap objek/sasaran da’wah, saya merasa tidak begitu confident untuk dikenal sebagai seorang ustadz dan karena memang sesungguhnya saya tidak ingin dikenal sebagai seorang Ustadz. Namun demikian, di sisi yang lain ada satu hal yang lebih bersifat parsial yang membuat saya sebetulnya merasa confident (bahkan mungkin berlebih) ketika sejak kecil saya memang pencinta ilmu, suka mengaji-apalagi Sang ustadz/Pak Kyai yang saya kenal memang kadar keilmuannya terbilang dalam dan luas, setidaknya hal ini bisa saya perhatikan dari kitab-kitabnya yang segudang dan ketika ada murid/jamaah yg sedang berkonsultasi tentang suatu masalah, dengan mudahnya beliau mengambil salah satu kitab rujukannya diantara ratusan bahkan ribuan kitab yang tersimpan rapih di lemari untuk sekedar menguatkan fatwa/jawaban yang diharapkan- dan InsyaAllah “Semoga beliau Allah Yarhamu (semoga Allah merahmatinya), saya dan teman2 tetap di jalanNya yang haq hingga akhir kehidupan di dunia ini. Amiin.. Dan sesungguhnya ada sebuah kebahagiaan tersendiri yang saya rasakan ketika saya mendapatkan suatu ilmu/ pengetahuan dalam bentuk apapun yang kemudian dapat saya amalkan dan bisa saya sampaikan kepada mereka yang membutuhkan. Dan Alhamdulillah, beberapa Kyai/Asatidz dengan kitab2nya yang seabreg2 (sangat banyak) itu pun saya kenal, selain itu saya kenal baik dengan para ustadz muda dengan semangat berda’wahnya yang nggak ada matinya..kenal baik dengan teman2 yang asli alumni ma’had/pondok pesantren, dan kenal baik pula dengan para murobbi &/aktivis da’wah di kampus dll. Tapi sekali lagi, dengan bekal itu saja saya fikir belumlah cukup.

Kembali ke soal nama, sedikit pun saya juga tidak ingin bermaksud untuk mensejajarkan nama saya dengan nama Nabi Besar MUHAMMAD SAW yang benar2 begitu indah, sangat istimewa dan sangat terkenal itu.. Karena apalah artinya saya dibandingkan keistimewaan beliau. Namun yang ingin saya sampaikan ini adalah mungkin hanya sekedar contoh. Contoh untuk mengangkat seorang figur terbaik dari sekian banyak pilihan yang merupakan contoh teladan (uswatun khasanah) dan manusia teramat istimewa yang memang paling layak untuk dicontoh. Sebab, kalau bukan beliau yang layak kita contoh, siapa lagi?, Innallaha wa malaaikatahuu yusholluuna ‘alan Nabii, Yaa…ayyuhalladziina aamanu sholluu ‘alaihi wa sallimuu tasliimaa. Allahumma Shalli wasallim wabaarik alaihi..wa ‘alaa aalihi..

Akhirnya, semoga hal ini menjadikan teman2 saya lebih faham dan mengenal saya lebih dalam dan sekaligus menjadi sebuah inspirasi buat teman2 untuk mengomentarinya. Atau paling tidak, menjadi sebuah pelajaran berharga untuk kita semua agar lebih berhati2 dalam memilihkan nama yang terbaik buat anak2 kita, bahkan buat cucu2 kita kelak. Bukan hanya atas dasar/pertimbangan bahwa nama tersebut mudah dilafalkan dan diingat oleh orang lain, melainkan pula nama memang sejatinya mengandung doa dan harapan. Dan menjadi lebih penting pula ketika kemudian dalam pemberian nama tersebut sebaiknya dilengkapi dengan pertimbangan/harapan semoga nama tersebut tidak menjadi masalah dalam bentuk apapun, sekecil apapun, kapan pun dan di manapun. Amiin…

Ditulis dalam Ta'aruf | 3 Komentar »

Taushiah 01

Ditulis oleh zensudarno di/pada Juni 4, 2007

Muqaddimah taushiah kali ini diawali dengan sebuah kalimat yang indah sekalaigus mengingatkan kita bahwa sesungguhnya dunia ini hanyalah sekedar persinggahan sementara. Namun demikian, di dunia inilah tempat kita mengandalkan amalan baik kita agar benar-benar optimal lagi berkualitas dan Allah SWT pun berkenan menerimanya. Kemudian kita berfikir, apa benar selama ini kita telah berusaha memanfaatkan waktu kita dan membuatnya benar-benar optimal lagi berkualitas?, sedangkan waktu yang kita lalui sehari-hari lebih banyak diperuntukkan untuk kesibukan dunia an sich, urusan waktu untuk amalan bernilai akhirat atau dunia akhirat hanya sekedar sesempatnya, atau bahkan sebenarnya waktu kita lebih banyak terbuang dengan sia-sia?? Wallahu a’lam…

Lantas, jika realitas kehidupan kita untuk hal tersebut masih perlu dipertanyakan kembali maka apakah layak jika kita kemudian mengklaim bahwa hidup kita sudah merasa sukses, tenang dan tentram seolah-olah tanpa rasa bersalah dan berpola tingkah seperti kandidat ahli syurga? Wal hal karakter para kandidat ahli syurga pun ternyata sangat jauh dari ungkapan kata “merasa.

Merasa dengan segala turunan dan variannya tetap saja secara umum akan berarti bahwa sebenarnya arti hidup kita di dunia ini hanya sekedar merasa. Dan hanya orang-orang yang memiliki sifat sombong atau takabur saja penyakit jiwa tersebut hinggap dan kemudian menggerogoti setiap amal kebaikannya hingga tidak bersisa. Dan pada akhirnya, boleh jadi ia atau mereka akan tetap menjadi tipe manusia dengan predikat “Sang Merasa. Ia hidup tapi pada hakikatnya ia mati dan/ orang-orang telah menganggapnya ada tapi tiada. Sementara bagi orang-orang yang dahulu mengenalnya dengan baik justru kemudian berusaha untuk tidak berhubungan dengannya bahkan berusaha melupakannya (selama-lamanya…). Setragis itukah?..Ya, itulah sementara cermin kehidupan masyarakat kita dengan hukum tidak tertulisnya tanpa mengenal waktu dan tempat. Wallahu a’lam bi shawab..

Ditulis dalam Opini Lepas | Leave a Comment »

Translator Mbeling

Ditulis oleh zensudarno di/pada Juni 4, 2007

Untuk mengenalkan Pancasila kepada masyarakat asli di sebuah desa di pedalaman Jawa Tengah, maka seorang guru mencoba menterjemahkan Pancasila ke dalam bahasa Jawa (ngoko) inilah hasilnya :

1) Siji : Gusti Alllah ora ono koncone

2) Loro : Dadi wong ojo kejem2

3) Telu : Indonesia bersatu kabeh

4) Papat : Karo tonggo2 nek ono masalah diomongno bareng2

5) Limo : Mangan ga mangan sing penting kumpul “!!$%^&(#…..”

Ditulis dalam Humor | 1 Komentar »

Naik Sepeda Motor

Ditulis oleh zensudarno di/pada Juni 4, 2007

Pada suatu hari Beni bermaksud mengantarkan neneknya berobat ke dokter menggunakan kendaraan sepeda motor.

Beni : Ayo nek, naik boncengan, jangan lupa pegangan yang erat ya.
Nenek : Iya, ini juga nenek udah pegangan erat koq.
Beni : Jangan lupa pegangannya yang erat ya, nek !!!! (kata Beni lagi mengingatkan)
Nenek : Iya, nenek udah pegangan yang erat cucu.., cerewet amat!.
Beni : Ok, kalo begitu kita berangkat ya, nek.

Beni lalu mulai tancap gas, tapi tiba-tiba terdengar benda jatuh: BRUAAAAKKKK!!!!! Beni kaget, lalu menoleh ke belakang dan ternyata si nenek terjatuh dari motornya.

Beni : Innalillahi wa inna ilaihi roji ‘uun.. Lho koq bisa jatuh sih, nek? Nenek gak pegangan ya?
Nenek : Nenek udah pegangan yang erat koq!!!!
Beni : Memangnya nenek pegangan apa?
Nenek : Pegangan pagar rumah..
Beni : “$%^&(# #!!!??@:(…”

Ditulis dalam Humor | 2 Komentar »

Sebuah Permainan

Ditulis oleh zensudarno di/pada Juni 4, 2007

Seorang Akhwat berjilbab rapi tampak sedang bersemangat mengajarkan sesuatu kepada murid-muridnya. Ia duduk menghadap murid-muridnya. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Sang guru berkata, “Saya punya permainan… Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus. Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah Kapur!”, jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah “Penghapus!” Murid-muridnya pun mengerti dan mengikuti. Sang guru berganti-gantian mengangkat antara kanan dan kiri tangannya, semakin lama semakin cepat.

Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, “Baik sekarang perhatikan.
Jika saya angkat kapur, maka berserulah “Penghapus!”, jika saya angkat
penghapus, maka katakanlah “Kapur!”.

Dan dijalankanlah adegan seperti tadi, tentu saja murid-murid kerepotan dan
kelabakan, dan sangat sulit untuk merubahnya. Namun lambat laun, mereka
bisa beradaptasi dan tidak lagi sulit. Selang beberapa saat, permainan
berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya. “Anak-anak, begitulah kita ummat Islam. Mulanya yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Kita begitu jelas
membedakannya. Namun kemudian, musuh-musuh kita memaksakan kepada kita
lewat berbagai cara, untuk membalik sesuatu, dari yang haq menjadi bathil,
dan sebaliknya. Pertama-tama mungkin akan sulit bagi kita menerima hal tersebut, tapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu.

“Semuanya terbalik. Dan tanpa disadari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?” tanya Ibu Guru kepada murid-muridnya. “Paham Buu…”

Ditulis dalam Hikmah | 1 Komentar »